A. Definisi
Menurut istilah yang mencakup Zakaatul fithri adalah sedekah tertentu,
dengan kadar tertentu, dibayarkan oleh orang tertentu, dengan syarat tertentu,
atas orang-orang tertentu, yang dibagikan kepada orang-orang tertentu, yang
wajib sebab berbuka dari puasa Ramadhan untuk mensucikan orang yang berpuasa
dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor dan sebagai makanan bagi kaum
miskin.
B. Hukumnya
Hukumnya fardhu, berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa, ia berkata, “Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam
memfardhukan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum,
kepada hamba maupun yang merdeka, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada
anak kecil maupun orang dewasa, dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk
menunaikannya sebelum orang-orang keluar untuk shalat ‘Id” (HR. Al
Bukhari).
C. Hikmah Zakat Fitrah
1.
Pembersih orang yang puasa
dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan kotor yang dia lakukan di bulan
Ramadhan.
2.
Makanan bagi orang-orang
miskin, agar tidak meminta-minta di hari raya, dan menjadikan mereka bergembira
di hari kegembiraan bagi semua lapisan masyarakat. Ini berdasarkan hadits Ibnu
Abbas radhiyallau ‘anhumaa, beliau
berkata: “Rasulullah shallalahu ‘alaihi
wa sallam mewajibkan zakat fitri untuk membersihkan orang yang berpuasa dari
kesia-siaan dan perkataan kotor dan untuk memberi makan orang-orang miskin” (HR.
Abu Dawud).
3.
Melapangkan seluruh kaum
muslimin.
4.
Mendapatkan pahala yang
besar dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya
5.
Sebagai zakat (pensuci)
badan
6.
Tanda bersyukur atas
nikmat Allah kepada orang yang berpuasa, bahwa mereka dapat menyempurnakan
puasanya.
D. Orang Yang Wajib
Menunaikan Zakat Fitrah
1.
Setiap muslim dan muslimah
, kecil atau dewasa, merdeka atau budak
2.
Memiliki kelebihan dari
kebutuhan pokok dirinya dan kebutuhan orang yang dibawah tanggungannya pada
hari Id.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam
asy-Syafi’I bahwa Rasulullah shallalahu
‘alaihi wa sallam: “Beliau memfardhukan zakat fitrah kepada orang yang merdeka
dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, dari orang yang menanggungjawab
nafkah (anak, isteri dan lainnya)” (Al-Umm karya asy-Syafi’I [II/62]).
Disunnahkan pula membayar zakat atas janin sebagaimana yang
disebutkan oleh Abu Qolabah, “Mereka
(para salaf) menunaikan zakat fitrah atas orang kecil, dewasa, bahkan janin
yang masih dalam kandungan ibunya” (Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dengan
sanad shahih).
E. Orang Yang Berhak Menerima
Zakat Fitrah
Pendapat yang benar bahwa zakat
fitrah tidak disalurkan kecuali kepada kaum fakir dan miskin yaitu mereka yang
tidak memiliki apa yang menjadi kebutuhan mereka pada hari ‘Id. Berdasarkan
hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan terdahulu: “Dan untuk memberi makan orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud).
Adapun keenam golongan selain
fakir dan miskin, maka mereka tidak berhak mendapatkan zakat fitrah kecuali jika
memang mereka termasuk orang-orang fakir atau miskin. Zakat fitrah diberikan
kepada orang-orang fakir di daerah setempat. Dimakruhkan memberikannya kepada
orang-orang fakir di luar daerahnya, selama di daerah asalnya masih terdapat
orang-orang fakir.
F. Kadar Zat dan Jenis
Makanan Yang Harus Dizakati
Kadar zakat fitrah adalah satu sha’ untuk setiap individu muslim.
sedangkan satu sha’ adalah 2,172 kg.
Disebutkan dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhumaa beliau berrkata: “Rasulullah
shallalahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah di bulan ramadhan berupa
satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i,
Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Dan dalam hadits Abu Sai
al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata: “Dahulu kami selalu membayar zakat fitrah pada zaman Nabi shallalahu
alaihi wa sallam berupa satu sha’ makanan pokok dan satu sha’ kurma atau satu
sha’ gandum, atauu satu sha’ anggur kering dan satu sha’ keju” (Muttafaqun
‘alaih).
Dan dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa, “dan untuk memberi
makan orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud). Hadits-hadits di atas menunjukkan
wajibnya membayar zakat fitri dengan satu sha’ makanan pokok suatu Negara,
sebagaimana dijelaskan oleh Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, “makanan pokok kami pada saat itu adalah gandum,
anggur kering, kurma dan keju” (HR. Al-Bukhari).
G. Hukum Memberikan Zakat
Fitrah Deengan Harganya
Imam Ibnu Baz rahimahullah
berkata, “tidak boleh memberikannya dengan harganya menurut mayoritas ulama.”
Dan pendapat inilah yang paling shahih dari segi dalil. Bahkan wajib mengeluarkannya dengan makanan pokok,
sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah shallalahu
alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu anhum (Majmuu fatawa a Ibni Baz
[XIV/202]).
H. Waktu Membayar Zakat
Fitrah
Menurut pendapat yang kuat, disunnahkan membayarr zakat fitrah
pada hari raya ‘Idul fitri sebelum shalat Id. Akan tetapi, dia juga boleh
memberikan zakatnya kepada pengurus zakat sehari atau dua hari sebelum hari
‘Idul fitri, dan tidak diperbolehkan menunda zakat fitrah hingga selesai
shalat, dan jika dibayarkan setelah shalat maka tidak sah zakat fitrahnya.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
1.
Dalil yang menunjukkan
bahwa waktu pembayaran zakat fitrah adalah pada hari Id yaitu hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa; “Dan Rasulullah shallalahu
alaihi wa sallam memerintahkan agar zakat fitrah dibayarkan sebelum shalat.” (Muttafaqun
‘alaih).
Hal ini dikarenakan zakat fitrah adalah syiar pada hari ‘Idul
Fitri yang bertujuan untuk mensucikan orang yang berpuasa setelah sebulah penuh
berpuasa dan memberikan kebahagiaan kepada kaum fakir pada hari ‘Idul Fitri.
2.
Dalil yang menunjukkan
bolehnya menyalurkan zakat fitrah kepada pengurus zakat sehari atau dua hari
sebelum hari Id adalah hadits Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhumaa; “Mereka membayar zakat fitri sehari atau dua hari sebelum hari ‘Id (Shahih
Bukhari). dan diriwayatkan dari Nafi’
bahwa penyerahan zakat pada hari itu adalah kepada amil (pengurus zakat) (Muwatha’
Malik dan Shahih Ibnu Khuzaimah).
3.
Adapun dalil yang
menunjukkan tidak sahnya zakat fitri yang ditunaikan setelah shalat Id adalah
hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa;
“Sesungguhnya Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah
untuk mensucikan orang-orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan perkataan kotor
dan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya
sebelum shalat, maka zakatnya sah dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat
maka zakatnya bernilai sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud)
Maksudnya, zakatnya tidak diterima sebagai zakat fitrah dan
dia berdosa jika menundanya tanpa ada alasan. Wallahu ta’ala a’lam.
No comments:
Post a Comment