Thursday, April 11, 2013

ZAKAT FITRAH



  A.  Definisi
Menurut istilah yang mencakup Zakaatul fithri adalah sedekah tertentu, dengan kadar tertentu, dibayarkan oleh orang tertentu, dengan syarat tertentu, atas orang-orang tertentu, yang dibagikan kepada orang-orang tertentu, yang wajib sebab berbuka dari puasa Ramadhan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor dan sebagai makanan bagi kaum miskin.

  B.  Hukumnya

     Hukumnya fardhu, berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa, ia berkata, “Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memfardhukan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada hamba maupun yang merdeka, kepada laki-laki maupun perempuan, kepada anak kecil maupun orang dewasa, dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang keluar untuk shalat ‘Id” (HR. Al Bukhari).

  C.  Hikmah Zakat Fitrah

1.     Pembersih orang yang puasa dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan kotor yang dia lakukan di bulan Ramadhan.
2.    Makanan bagi orang-orang miskin, agar tidak meminta-minta di hari raya, dan menjadikan mereka bergembira di hari kegembiraan bagi semua lapisan masyarakat. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallau ‘anhumaa, beliau berkata: “Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri untuk membersihkan orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan perkataan kotor dan untuk memberi makan orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud).
3.    Melapangkan seluruh kaum muslimin.
4.    Mendapatkan pahala yang besar dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya
5.    Sebagai zakat (pensuci) badan
6.    Tanda bersyukur atas nikmat Allah kepada orang yang berpuasa, bahwa mereka dapat menyempurnakan puasanya.

  D.  Orang Yang Wajib Menunaikan Zakat Fitrah

1.     Setiap muslim dan muslimah , kecil atau dewasa, merdeka atau budak
2.    Memiliki kelebihan dari kebutuhan pokok dirinya dan kebutuhan orang yang dibawah tanggungannya pada hari Id.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’I bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam: “Beliau memfardhukan zakat fitrah kepada orang yang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, dari orang yang menanggungjawab nafkah (anak, isteri dan lainnya)” (Al-Umm karya asy-Syafi’I [II/62]).

Disunnahkan pula membayar zakat atas janin sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Qolabah, “Mereka (para salaf) menunaikan zakat fitrah atas orang kecil, dewasa, bahkan janin yang masih dalam kandungan ibunya” (Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dengan sanad shahih).

  E.  Orang Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah

Pendapat yang benar bahwa zakat fitrah tidak disalurkan kecuali kepada kaum fakir dan miskin yaitu mereka yang tidak memiliki apa yang menjadi kebutuhan mereka pada hari ‘Id. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan terdahulu: “Dan untuk memberi makan orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud).

Adapun keenam golongan selain fakir dan miskin, maka mereka tidak berhak mendapatkan zakat fitrah kecuali jika memang mereka termasuk orang-orang fakir atau miskin. Zakat fitrah diberikan kepada orang-orang fakir di daerah setempat. Dimakruhkan memberikannya kepada orang-orang fakir di luar daerahnya, selama di daerah asalnya masih terdapat orang-orang fakir.

  F.  Kadar Zat dan Jenis Makanan Yang Harus Dizakati

Kadar zakat fitrah adalah satu sha’ untuk setiap individu muslim. sedangkan satu sha’ adalah 2,172 kg. Disebutkan dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa beliau berrkata: “Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah di bulan ramadhan berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum”  (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Dan dalam hadits Abu Sai al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Dahulu kami selalu membayar zakat fitrah pada zaman Nabi shallalahu alaihi wa sallam berupa satu sha’ makanan pokok dan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, atauu satu sha’ anggur kering dan satu sha’ keju” (Muttafaqun ‘alaih).

Dan dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa, “dan untuk memberi makan orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud). Hadits-hadits di atas menunjukkan wajibnya membayar zakat fitri dengan satu sha’ makanan pokok suatu Negara, sebagaimana dijelaskan oleh Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, “makanan pokok kami pada saat itu adalah gandum, anggur kering, kurma dan keju” (HR. Al-Bukhari).

  G.  Hukum Memberikan Zakat Fitrah Deengan Harganya
Imam Ibnu Baz rahimahullah berkata, “tidak boleh memberikannya dengan harganya menurut mayoritas ulama.” Dan pendapat inilah yang paling shahih dari segi dalil. Bahkan wajib  mengeluarkannya dengan makanan pokok, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu anhum (Majmuu fatawa a Ibni Baz [XIV/202]).

  H.  Waktu Membayar Zakat Fitrah

     Menurut pendapat yang kuat, disunnahkan membayarr zakat fitrah pada hari raya ‘Idul fitri sebelum shalat Id. Akan tetapi, dia juga boleh memberikan zakatnya kepada pengurus zakat sehari atau dua hari sebelum hari ‘Idul fitri, dan tidak diperbolehkan menunda zakat fitrah hingga selesai shalat, dan jika dibayarkan setelah shalat maka tidak sah zakat fitrahnya. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah:

1.     Dalil yang menunjukkan bahwa waktu pembayaran zakat fitrah adalah pada hari Id yaitu hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa; “Dan Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam memerintahkan agar zakat fitrah dibayarkan sebelum shalat.” (Muttafaqun ‘alaih).

Hal ini dikarenakan zakat fitrah adalah syiar pada hari ‘Idul Fitri yang bertujuan untuk mensucikan orang yang berpuasa setelah sebulah penuh berpuasa dan memberikan kebahagiaan kepada kaum fakir pada hari ‘Idul Fitri.

2.    Dalil yang menunjukkan bolehnya menyalurkan zakat fitrah kepada pengurus zakat sehari atau dua hari sebelum hari Id adalah hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa; “Mereka membayar zakat fitri sehari atau dua hari sebelum hari ‘Id (Shahih Bukhari). dan diriwayatkan dari Nafi’ bahwa penyerahan zakat pada hari itu adalah kepada amil (pengurus zakat) (Muwatha’ Malik dan Shahih Ibnu Khuzaimah).

3.    Adapun dalil yang menunjukkan tidak sahnya zakat fitri yang ditunaikan setelah shalat Id adalah hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa; “Sesungguhnya Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang-orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan perkataan kotor dan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat, maka zakatnya sah dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat maka zakatnya bernilai sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud)

Maksudnya, zakatnya tidak diterima sebagai zakat fitrah dan dia berdosa jika menundanya tanpa ada alasan. Wallahu ta’ala a’lam.

No comments:

Post a Comment