Showing posts with label Muhasabah. Show all posts
Showing posts with label Muhasabah. Show all posts

Tuesday, May 7, 2013

Shalat


Bila semua kata-kata ini sampai dengan baik dan sempurna, Insya Allah kesejahteraan dan keberkahan selalu bersama kita ...

Bila “SUBUH” utuh,
Pagi pun tumbuh,
Hati terasa teduh,
Pribadi tidak angkuh,
Keluarga tidak keruh,
Maka damai berlabuh

Bila “DZUHUR” teratur,
Diri jadi jujur,
Hati tidak kufur,
Jiwa selalu bersyukur,
Amal ibadah tidak udzur,
Keluarga akur,
Maka pribadi jadi makmur

Bila “ASHAR” kelar,
Jiwa jadi sabar,
Raga jadi tegar,
Senyum pun menyebar,
Insya Allah rezeki lancar

Bila “MAGHRIB” tertib,
Ngaji menjadi wajib,
Wirid jadi karib,
Jauh dari aib,
Insya Allah syafaat tidak raib

Bila “ISYA” terjaga,
Malam bercahaya,
Hati damai sejahtera,
Insya Allah hidup pun bahagia

Amin ...

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

(Keluarga Besar LZI, Abdul Muis Maulana B.)

LANGKAH NYATA MENEGAKKAN PERADABAN ISLAM


Peradaban modern, yang tak lain merupakan metamorfosis dari idiologi materialisme dengan lokomotif globalisasinya, terasa begitu cepat berkembang dan dinamis. Ia bahkan telah meninggalkan pesaingnya yang mengusung tema lebih menjanjikan, yaitu peradaban Islam.

            Padahal, Islam adalah inspirator peradaban yang telah melahirkan generasi terbaik sepanjang sejarah manusia, yaitu Rasulullah SAW dan para sahabat. Dahulu mereka berhasil mewujudkan iman dalam kehidupan nyata. Maka kini, orang-orang beriman yang telah mengikuti Beliau, seharusnya pun mampu melakukan hal yang sama. Lalu, seluas apa ruang lingkup implementasi iman dalam kehidupan nyata yang harus diwujudkan oleh orang-orang beriman ?

Pertama, Lingkup Pribadi
            Salah satu keutamaan seorang mukmin adalah sifat berkorban yang tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan, yaitu pengorbanan sebagaimana yang digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat [49] : 15)

Dengan keimanan itulah orang-orang mukmin dapat melepaskan diri dari belenggu dan ikatan duniawi yang sangat materialistis sehingga mereka rela berkorban dengan harta dan jiwanya di jalan Allah SWT. Karena imanlah mereka lebih memilih perniagaan yang lebih baik dan menyelamatkan, sekaligus mengundang ampunan dan surga-Nya, serta pertolongan dan kemenangan dari-Nya.

Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.” (Ash-Shaaf [61] : 10 - 11).

Kedua, Lingkup Masyarakat 
            
       Rasulullah SAW saat membangun masyarakat Islam di Madinah berawal dari mendirikan masjid. Bahkan secara konsisten Rasulullah SAW dan para sahabat telah menjadikan masjid bukan sekedar tempat tempat shalat, namun juga tempat membangun masyarakat dan peradaban. Semangat inilah yang digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya :

“Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’aam [6] : 162).

            Pembangunan peradaban Islam yang dimulai dari masjid memberikan pesan bahwa peradaban yang hendak dibangun itu harus berlandaskan iman dan ilmu. Keduanya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Melalui masjid-masjid, peradaban Islam tumbuh dan berkembang memberi kontribusi yang luar biasa terhadap peradaban dunia karena bersumber langsung dari Al-Qur’an. Di sisi lain, masjid telah menjadi tempat lahirnya banyak ulama dan ilmuwan besar Islam. Sayangnya, umat Islam dewasa ini justru tertinggal peradabannya.

Ketiga, Lingkup Dunia
            Dengan iman, seseorang akan menjadikan kehidupan dunia ini sebagai sarana untuk mendapatkan tujuan yang lebih mulia, yaitu kehidupan akhirat. Jika seseorang rela dengan harta yang sedikit dan tempat tinggal yang sederhana, maka ringan pula baginya untuk mengeluarkan hartanya, meninggalkan rumah dan keluarganya, bahkan kehidupannya, demi menggapai ridha Allah SWT. Ketika maut menjemputnya, baik di rumah maupun di medan jihad, ia menyambutnya dengan gembira. Sebab, ia yakin bahwa ada surga menantinya.

Orang beriman hampir tidak pernah memberi sesuatu kecuali untuk mendapatkan ganjaran dari Allah SWT, baik tunai atau ditangguhkan. Jiwanya selalu menantikan balasan yang adil atas apa yang pernah diberikannya. Karena hanya perjuangan dan pengorbanan demi agamalah yang dapat memecahkan persoalan manusia.

Bagi orang beriman, apa saja yang ia berikan akan kembali padanya berlipat ganda. Harta yang ia berikan dan apa yang menimpa jiwa dan raganya akan diganti pula oleh Allah SWT. Jika ia mempersembahkan nyawanya di jalan Allah SWT, lalu ia terbunuh atau mati, pada hakikatnya ia tidak mati melainkan hidup di sisi Tuhannya dan diberi rezeki.

Allah SWT berfirman :

“…dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Al-Baqarah [2] : 272).

Menerima dan menjawab ujian dengan baik dan benar.
            Tujuan pokok dari ujian yang diberikan Allah SWT adalah untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Sebab, hakekat iman yang benar adalah rela berkorban dengan tenaga, pikiran, dan harta benda, bahkan mempertaruhkan nyawa sekalipun.
            
Allah SWT menggambarkan orang-orang yang benar imannya dalam Al-Qur’an Surah Fushshilat [41] ayat 30 - 31. Mereka, kata Allah SWT, adalah orang-orang yang mengatakan bahwa, “Allah itu Tuhan kami (Rabbunallah),” kemudian mereka berpendirian teguh.

Menjadikan iman sebagai semangat gerakan
            Bila kita ingin mencapai apa yang telah dicapai oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, maka hendaklah kita memperbaharui iman dan melaksanakan apa yang menjadi konsekuensinya. Iman itu bukan sekedar retorika, tapi benar-benar menuntut pelaksanaannya.

            Itulah sebabnya, segala upaya dalam penerapan iman pasti akan menghadapi berbagai tantangan, yakni :
1.      Godaan Hawa Nafsu
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah [45] ayat 23
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan akan dibiarkan oleh Allah SWT dalam keadaan sesat. Kemudian, Allah SWT mengunci mati pendengaran dan hatinya, serta menutup penglihatannya. Jika sudah seperti ini, siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah SWT ?

2.     Kesombongan
Sesungguhnya milik Allah-lah segala yang meliputi langit dan bumi dan apa-apa yang dimiliki manusia adalah amanah dari-Nya, lantas mengapakah kita sebagai manusia tidak mengambil pelajaran?

Allah SWT berfirman :
“Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al-Alaq [96] : 6 – 7).

3.     Cinta Dunia
Allah SWT berfirman :
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka neraka Jahim lah tempat kembalinya.” (An-Naazi’aat [79] : 37 – 38).

4.     Dorongan Syahwat
Allah SWT dalam Surah Ali-Imran [3] ayat 14, menyebut contoh-contoh kesenangan hidup di dunia yang bisa mendorong syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta emas dan perak yang banyak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, serta sawah dan ladang.

Wallahu a’lam bish-shawab. ***
Sumber: LZI_News Ed.11

MAAFKANLAH SEBELUM DIMINTA



Salah satu sisi negatif kehidupan modern adalah munculnya masyarakat yang egois. Hampir semua orang disibukkan oleh urusannya sendiri, dan tak peduli dengan urusan orang lain. Bila ada urusan pribadinya yang terganggu sedikit saja, muncul alasan untuk marah, membalas, atau mendendam. Padahal, dengan cara seperti itu, ia malah akan menang­gung dua beban sekaligus. Pertama, beban atas gangguan orang lain dan yang kedua, beban marah yang tersimpan di dalam dadanya.

Islam mengajarkan kepada kita untuk membebaskan diri dari segala bentuk beban yang tidak perlu. Kita harus memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani. Kita buang beban itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memaafkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Khudzil ‘afwa wah mur bil ‘urfi wa a’ridh anil jahiliin”
Terjemahnya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-­orang yang bodoh.” (Al-A'raf [7] : 199)

Meski Dizalimi
Seperti diriwayatkan oleh Ath-Thabari, ketika ayat di atas diturunkan, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam (SAW) meminta penjelasan kepada Jibril tentang maksud dan kandungannya. Jibril kemudian menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan agar engkau memaafkan, sekalipun kepada orang yang menganiayamu (agar engkau) memberi kepada orang yang menahan pemberiannya, dan (agar engkau) menyambung silaturahim, meskipun kepada orang yang sengaja memutuskannya.”

Dalam kisah yang diriwayatkan Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah memuji seorang bernama Abu Dhamdham di depan para Sahabat. “Apakah kalian mampu berbuat seperti yang dilakukan Abu Dhamdham?” kata Rasulullah SAW.

Para Sahabat kemudian bertanya, “Apakah yang dilakukan Abu Dhamdham wahai Rasulullah ?”
Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang ketika bangun pagi selalu mengucapkan doa, ‘Ya Allah, saya berikan jiwa dan nama baik saya. Jangan dicela orang yang mencela saya dan janganlah dizalimi orang yang menzalimi saya, serta jangan dipukul orang yang memukul saya.”

Alangkah mulianya ajaran Islam ini bila diterapkan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Selain mulia, memaafkan juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, keengganan untuk memaafkan hanya akan melahirkan kesengsaraan, karena membiarkan diri disakiti terus-menerus oleh diri kita sendiri.

Untuk itu, maafkanlah orang yang meminta maaf. Maafkan juga orang yang mengajukan pengakuan atas kesalahannya, dan terimalah permintaan maafnya tanpa banyak pertimbangan. Bahkan carikan alasan agar kita bisa memaafkannya.

Sebelum Diminta
Al-Qur'an secara spesifik pernah menegur Abu Bakar Ash-­Shiddiq karena ia telah bersumpah akan memutuskan hubungan kekerabatan dan menghentikan bantuan keuangan yang biasa diberikannya kepada sepupunya, Misthah bin Utsatsah.

Peristiwa ini bukan tanpa alasan. Misthah telah melukai hati Abu Bakar karena ikut serta menyebarluaskan berita bohong (haditsul ifki) tentang `Aisyah, putri kesayangannya. Dalam berita palsu itu disebutkan bahwa 'Aisyah telah berbuat serong dengan lelaki lain. Siapa yang hatinya tidak marah jika putrinya difitnah seperti itu ?

 Akan tetapi Allah Ta’ala justru menurunkan ayat secara khusus ditujukan kepada Abu Bakar. Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana disebutkan dalam Surat An-Nuur [24] ayat 22,
Terjemahnya: “dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nuur: 22)

Setelah ayat itu disampaikan oleh Rasulullah SAW, secara spontan Abu Bakar menjawab pertanyaan Allah Ta’ala dengan berdoa, “Ya Allah, aku lebih suka agar Engkau mengampuniku, dan aku sudah memafkannya.”

Abu Bakar memberi maaf kepada sepupunya yang menye­barkan fitnah keji itu sebelum Misthah datang meminta maaf. Baginya, ampunan Allah Ta’ala jauh lebih penting dari pada sekedar permintaan maaf orang lain. Ia tidak menunggu sepupunya merengek-rengek atau menunduk-­nunduk meminta maaf. Meminta maaf atau tidak, ia telah memaaf­kannya.

Pangkal Pengampunan
Bagi orang yang bertakwa, ampunan Allah Ta’ala berada di atas segala-galanya. Karena itu, kita hendaklah meminta ampunan-Nya siang dan malam. Beristighfar dan bertobatlah kepada-Nya. Salah satu cara mudah meraih ampunan Allah Ta’ala adalah dengan memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah SAW, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, berkata, “Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang Mus­lim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya.” Sepanjang bukan menyangkut masalah hudud (hukuman yang diatur oleh Allah Ta’ala), seberapa pun besarnya kesalahan orang lain, kita harus bisa terbuka untuk memaafkannya.

Ada dua cara yang efektif untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pertama, kita menyadari bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kita sendiri sebagai pribadi, juga sering berbuat salah, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada sesama manusia.

Jika kita ingin dimaafkan orang lain, tentu orang lain yang berbuat salah kepada kita juga ingin dimaafkan oleh kita. Jika ada orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan.

Dalam hal ini kita harus berhusnuzhan (baik sangka) kepadanya bahwa dia tidak memahami kesalahannya, atau karena ilmunya yang terbatas, atau mungkin saja persepsinya yang berbeda.

Cara kedua, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala itu Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Jika Allah Ta’ala mudah memberi maaf, mengapa kita pelit memaafkan orang lain ?

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang lebih suka memaafkan selain Allah. Oleh karena itu, Dia mengutus para Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.” (Riwayat Bukhari).

Begitu besarnya pengampunan Allah Ta’ala sehingga Dia memaafkan orang yang meminta ampunan maupun yang tidak minta ampun. Dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhari disebutkan bahwa ada seorang laki-laki di masa lalu yang memerintahkan anak-anaknya untuk membakar jasadnya jika ia telah mati, lalu menaburkan abunya di hembusan angin. Tujuannya tak lain agar Allah Ta’ala kelak, menurut anggapannya, tidak dapat mengumpulkan kembali abu tersebut dan tidak dapat menyiksanya.

Lalu Allah Ta’ala mengumpulkan abunya, dan menghidupkannya kembali, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan kamu berbuat demikian ?” Ia menjawab, “Karena aku takut kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Allah Ta’ala kemudian mengampuninya.

Para Ulama mengomentari Hadits di atas bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seseorang karena ketidaktahuannya dalam masalah aqidah. Lantas bagaimana dengan kita ? Apakah kita tidak ingin memaafkan kesalahan saudara kita hanya karena ketidaktahuannya atas masalah yang lebih sepele dibanding kejadian di atas ?

Al-Qur'an bahkan menyebut dengan tiga tindakan berkaitan dengan pemaafan dalam keluarga, yaitu ta’fu (memaafkan), tasfahu (tidak mengeluarkan kata-kata yang identik dengan mencela), dan taghfiru (memohonkan ampunan kepada Allah Ta’ala untuk mereka).

Sesungguhnya ada seribu satu alasan untuk memaafkan, sebagaimana ada seribu satu alasan untuk tidak memaafkan. Hanya saja, sebagai orang yang telah mengetahui keutamaan memaafkan, kita tentu lebih memilih untuk memaafkan.

Sebab itulah ciri-ciri orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali Imran [3] ayat 133 - 134 bahwa, “ ... (orang yang bertakwa) yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”

Alangkah angkuhnya kita jika tidak mau memaafkan saudara kita. Padahal, dengan memaafkan, berarti kita menyenangkan hati orang lain, memusnahkan benih kejahatan, menghilangkan kedengkian, dan membantu orang lain untuk bertobat.

Wallahu a’lam bish-Shawab. ***
Sumber : Suara Hidayatullah (dengan penyesuaian)


Sunday, April 28, 2013

KEADILAN DISTRIBUSI DALAM EKONOMI ISLAM


Oleh: Dr. Abdul Mannan, SE
Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah


“Kelompok miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial”
  
Berbeda dengan ilmu ekonomi kapitalis dan sosialis, sistem ekonomi Islam memiliki paradigma syariah, yang berarti tidak lagi berorientasi kepada pasar, melainkan berorientasi syariah (hukum) yang bersumber dari al-Qur'an dan Hadits. Jika dilihat dari dasar dan filosofinya, berorientasi kepentingan dunia dan akhirat, karena filosofi tauhid akan menaungi seluruh aktivitas hidup, bukan hanya sebatas aktivitas ekonomi melainkan terintegrasi kepada semua aspek kehidupan : sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum, ilmu pengetahuan, teknologi, bahkan tataran spiritual sekalipun.

Jika sistem kapitalisme menonjolkan individualisme dari manusia, dan sosialisme pada kolektivisme, maka Islam menekan­kan empat sifat sekaligus yaitu : kesatuan (Unity atau Tauhid), keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium atau Al-'Adl wal Ihsan), kebebasan (Free will atau Ikhtiyar), dan tanggung jawab (Responsibility atau Fardh).

Sistem ekonomi Islam berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun Negara Kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari kapitalisme karena, pertama, Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Seperti tertulis dalam firman-Nya : "Kecelakaanlah bagi setiap yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung." (Al-Humazah [104] : 2). Kedua, kelompok miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial, seperti yang tercantum dalam al-Qur'an, "Jangan sampai kekayaan hanya beredar dikalangan orang­-orang kaya saja di antara kamu." (Al-Hasyr [59] : 7). Islam berbeda dalam hal kekuasaan negara, yang dalam sosialisme sangat kuat dan menentukan. Kebebasan perorangan yang dinilai tinggi dalam Islam jelas bertentangan dengan ajaran sosialisme.

Ajaran Negara Kesejahteraan (Welfare State), yang berada di tengah-tengah antara kapitalisme dan sosialisme, memang lebih dekat ke ajaran Islam. Bedanya hanyalah, dalam Islam etika benar­-benar dijadikan pedoman perilaku ekonomi sedangkan dalam Welfare State tidak demikian, karena etika Welfare State adalah sekuler yang tidak mengarahkan pada "integrasi vertikal" antara aspirasi materi dan spiritual. Jelas, bahwa dalam Islam pemenuhan kebutuhan materil dan spiritual benar-benar dijaga keseimbangannya, dan pengaturan oleh negara, meskipun ada, tidak akan bersifat otoriter.

Manusia sebagai wakil Allah (khalifah) di dunia tidak mungkin bersifat individualistik karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi. Dari sini, selanjutnya Naqvi merumuskan lima sasaran kebijakan yang ia tarik dari postulat­-postulat etika dasar Islam yakni menyangkut kebebasan individu, keadilan distributif, pertumbuhan ekonomi, pendidikan universal, dan peluang kerja maksimum.

Kita membuktikan bahwa sistem ekonomi Islam dapat mengantarkan pada pencapaian pertumbuhan dan keadilan distributif secara simultan sekaligus menjamin kebebasan individu tanpa mengorbankan kebijakan sosial. Dan, di sinilah letak tugas serta kewajiban Pemerintah dalam mengalokasikan sumberdaya secara adil dan bijak sebagai upaya menekan terjadinya kegagalan pasar. *

Sumber : SUARA HIDAYATULLAH

DUA MODEL MAUT


Oleh : Dr. Ir. Fuad Rumi, MS*

Kali ini mari kita bicara sesuatu yang oleh banyak orang biasanya enggan dibicarakan, yaitu tentang maut. Belum pernah ada seminar membahasnya, dan belum pernah dibicarakan dalam sidang DPR.
Al-Qur'an menggambarkan ada dua cara malakul maut mencabut ruh dari tubuh orang yang sudah tiba ajalnya. Sebutlah itu sebagai dua model maut yang berbeda.
Model pertama, digambarkan oleh al-Qur'an dalam surah al-An'am [6] : 93, "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang zalim dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) `keluarkanlah nyawamu’ ... “
Kedua, digambarkan dalam surah an-Nahl [16] : 32 yaitu, "Orang-­orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan ‘Salaamun `alaikum’, keselamatan atasmu..."
Ketika membaca ini pasti semua tidak ingin maut model pertama dan sebaliknya sangat mengharap maut model yang kedua. Kalau begitu mari kita bicarakan model yang kita tidak ingini saja, yaitu model pertama.
Orang yang mautnya model pertama adalah orang zalim. Siapakah orang zalim ? Sudah ada satu jawaban yang jelas dari al-Qur'an dalam surah Luqman [31] ayat 13, inna sysyirka ladhulmun aziim (sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar).
Zalim adalah perbuatan aniaya. Jika seseorang berkuasa sewenang-­wenang dan menindas orang yang dikuasainya, maka itu namanya zalim. Jika orang memiliki kekuatan lalu memperlakukan orang-orang lemah sesuka hatinya, maka itu adalah zalim. Jika rakyat kecil menderita lalu semakin ditambah penderitaannya oleh penguasa, maka penguasanya adalah penguasa zalim. Penguasa zalim yang dicontohkan al-Qur'an adalah Firaun. Banyak contoh kezaliman bisa kita sebutkan sendiri menambah deretan daftar orang-orang zalim.
Ada satu model kezaliman yang sekarang lagi melanda negeri kita, yaitu korupsi kelas kakap: korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang rekeningnya sudah gendut semakin ingin gendut dengan cara mengkorup uang negara. Akibatnya, uang yang sedianya akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil menjadi hilang. Logikanya, orang yang sudah kenyang merampas makanan orang yang kelaparan. Apa itu bukan kezaliman ?
Korupsi di negeri kita seperti itulah adanya. Para koruptor sebenarnya adalah orang-orang yang hatinya tega merampas hak-­hak rakyat kecil.
Akibat dari korupsi di negeri ini, tidak bisa disangkal telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa kita. Akibatnya pembangunan sosial dan kesejahteraan rakyat belum pernah bisa tertangani dengan baik. Betapa lukanya hati rakyat setiap kali mengetahui ada sekian triliun rupiah dana negara dikorupsi oleh satu-dua orang saja atau satu golongan saja. Padahal jika dihitung-hitung, dana triliunan itu bisa dipakai untuk membangun ribuan rumah bagi rakyat yang hidup di kolong jembatan, di bantaran sungai dan pinggir rel kereta api. Dana triliunan itu bisa untuk mengobati rakyat miskin yang sakit di mana-mana karena mereka kelaparan.
Para koruptor besar adalah orang-orang yang otaknya encer, yang dengan mudah mengkalkulasi hitungan-hitungan seperti ini. Apalagi jika koruptor itu pejabat negara atau wakil rakyat, dia pasti tahu bahwa itu menggerogoti opportunity rakyat memperoleh kesejahteraan. Nah, jika mereka sudah mengetahuinya namun masih diambilnya juga apakah itu bukan "merampas makanan dari piring orang miskin dan kelaparan ?" Apakah itu bukan perbuatan tega, yang sampai bati menyusahkan orang yang sudah susah ? Sungguh tidak ragu lagi bahwa itu adalah sebuah kezaliman yang nyata.
Lalu, mari kita kembali pada gambaran model maut orang zalim yang diceritakan al-Qur'an tadi, betapa mengerikan. Ketika orang zalim dalam tekanan sakaratul maut, maka malaikat maut memukul dengan tangannya sembari berkata, "Keluarkan nyawamu !" Mari berdoa na'udzu billahi min dzalik. Artinya, mari berjuang tidak menjadi orang zalim. Mari berjuang tidak menjadi koruptor.

*Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar

Sumber : SUARA HIDAYATULLAH 

Tuesday, April 16, 2013

WAKTU




Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi Robbil Alamin, Assalatu Assalamu Ala Asrabi ambiyai Wamursalim Wa'alaa Alihi Wa'assabihi Ajmain.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya dengan penuh hikmah bagi setiap manusia, mari kita haturkan salam serta taslim kepada baginda Nabiullah Rasulullah Muhammad SAW. Aku berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan nafsuku dan aku mohon syafa'at Nabi dan Rasulku pada hari kemudian nanti Diyaumil Hizab, Amin.
Bapak / lbu, saudara (i) kaum muslimin, muslimat yang sangat berbahagia, perjalanan waktu yang begitu cepat bagaikan air mengalir     yang terus menerus dan tiada henti, begitu juga perkembangan zaman yang begitu cepat seakan berlalu begitu saja dan ini pula yang terjadi dengan diri dan kehidupan kita semua, kalau hari ini kita adalah anak-anak 10 - 20 tahun mendatang Insya Allah kita akan punya anak atau kemungkinan saat ini kita hanyalah seorang cucu., 20 - 40 tahun berikutnya Insya Allah kita akan bercucu itulah perjalanan waktu dan evolusi manusia.
Komitmen Islam akan pentingnya waktu diabadikan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah dalam berbagai awal firmannya Allah SWT bersumpah demi Malam atau Siang (QS. Al - Lail : 1 - 2) demi Fajar (QS. Al - Fajr : 1 - 22) demi Dhuha (QS. Ad - Duha : 1 - 2) sebagai klimaks, Allah SWT menegaskan, demi masa, sungguh manusia benar-benar merugi, kecuali mereka yang beriman, dan beramal saleh saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan menepati kesabaran itulah arti dari surah Al - Ashar ayat 1 - 3 berkaitan dengan waktu, ada isyarat yang bisa dipetik dari arti surah Al - Ashar yakni yang pertama bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin maksudnya, kalau kita punya tugas saat ini mari kita selesaikan saat ini dan jika kita punya pekerjaan sekarang, sekarang juga kita kerjakan jangan menunggu hari esok, karena hari esok adalah tugas dan pekerjaan yang baru dan harus kita selesaikan saat itu, ingat ! waktu tidak pernah menunggu kita. Isyarat yang ke-2 yang bisa kita petik QS. Al - Ashar ialah bahwa kebahagiaan ada di setiap saat maksudnya marilah kita terus mengingat Allah SWT dengan zikir dan amal saleh dan berbuat banyak untuk kemaslahatan umat manusia, agama dan negara dan tidak lupa pula memberi contoh dari suri tauladan kepada sesama, nasehat menasehati dalam syariat Islam dan tentu saja bertakaruk ilallah baik siang maupun malam. Dalam pandangan Islam waktu adalah proses akumulasi hidup dan kehidupan manusia. Tak bertepi, namun bergulir terus seiring aktivitas manusia. Siapa yang kehilangan waktu, berarti kehilangan umur, kapan dan dimana saja, waktu terus mengalir, mengiringi alur dan jalur hidup serta kehidupan alam jagat raya dan penghuninya.
Irama gerak alam, peredaran cakrawala, rotasi bulan dan matahari pergantian malam dan siang tertata rapi lewat perputaran waktu. Sulit dibayangkan manakala hidup dan kehidupan ini tanpa daya guna dan hasil guna waktu. Allah SWT telah memberikan contoh konkret betapa alam jagat raya ini dikemas dan dikelolah melalui manajemen waktu yang terstruktur. Semua perputaran masa dan pergantian waktu, wajib dijadikan satu asa sebagaimana firman-Nya, sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (QS. Al - lmran : 19) bagi seorang muslim, perjalanan dunianya membutuhkan waktu. Untuk itu mereka harus menghargai dan memanfaatkan waktu. Itulah sebabnya, Allah SWT mengingatkan agar kita mewaspadai keberadaan dan keterbatasan waktu. Ruang lingkup waktu bersifat multidimensi. Ada pendek atau panjang, ada yang sesaat maupun berkesinambungan. Menurut ungkapan klasik orang Arab, "Waktu lebih mahal dari pada Emas". Sedangkan orang barat, “Time is Money" keduanya menghargai nilai waktu, tapi sebatas bersifat materialis, sedangkan apresiasi Islam terhadap waktu lebih berfokus bagaimana seorang Muslim mengoptimalkan penggunaan waktu agar dapat menggapai Ridho Allah SWT. Cakupnya meliputi berbagai segi kehidupan, seperti menuntut ilmu. Menggali dan membangun sumber daya, bekerja dan berkarya, budaya guna dan berhasil guna dalam beramal ibadah untuk kemaslahatan pribadi dan orang lain. Lebih jauh Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk memelihara 5 perkara sebelum tiba perkara yang 5 yaitu :
  1. Masa hidup sebelum masa mati
  2. Masa sehat sebelum masa sakit
  3. Masa longgar sebelum masa sempit
  4. Masa muda sebelum masa tua
  5. masa kaya sebelum masa miskin.
Sungguh merugi orang Muslim yang tidak menghargat dan mendayagunakan waktu sebab waktu adalah tanda kebesaran, keagungan Allah SWT. Bila pandai memanfaatkannya, bakal besar daya dan maknanya bagi hidup dan kehidupan kita.
Bukankah ketepurukan dan ketertinggalan kaum muslimin saat ini disebabkan oleh rapuhnya penghayatan dan kemalasan dalam memelihara dan memanfaatkan waktu.
Semoga, berjalannya waktu dan bertambahnya usia menjadikan kita lebih bijak dalam berpikir, berbuat dan bertindak yang pada akhirnya, melahirkan kecintaan kepada Allah SWT dan kepada Nabi Junjungan kita Muhammad SAW.
Demikian hikmah yang dapat kita petik dari waktu semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari kesia-siaan sebaliknya kita mampu memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, semoga apa yang kami utarakan ini bermanfaat bagi kita semua kurang lebihnya mohon dimaafkan.
Hadanallahu Waiyyakum Ajmain,
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

10 LANGKAH MERAIH CINTA ALLAH



Assalamu Alaikum Wr. Wb. 
Tujuan hidup seorang Muslim adalah memperoleh Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memasuki surga-Nya. Tujuan ini akan tercapai jika ia menjalani hidup secara mulia, baik sebagai hamba Sang Khalik maupun sebagai makhluk sosial, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Adapun tujuan hidup orang kafir hanya untuk memenuhi syahwatul bathn (syahwat perut) dan syahwatul farj (syahwat seks). Maka, aktivitas hidupnya pun hanya untuk memburu sesuatu yang menyenangkan sesaat, tapi kemudian membuat dirinya sendiri kecewa.
Allah Ta’ala berfirman,

Walladziina kafaru wa a’maluhum kasarabi biqiiatii yahsabuhul dzam‘a nu maa ‘an hattaya idza jaa ‘ahu lam yajidhu syai ‘an wa wajadallahu indahu fawaf fayahu hisabahu wallahu sariiul hisab

Artinya : “Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun, dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nur [24] : 39)

            Jika sudah demikian, mereka lebih rendah dari binatang. Sebab, sebagai makhluk yang memiliki kelebihan akal dan kemampuan spiritual, seharusnya mereka tidak berbuat seperti itu. Panca indera mereka sudah tak lagi berinteraksi dengan ayat-ayat-Nya.
            Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya kami jadikan (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf [7] : 179)

Kiat Meraih Cinta-Nya
           
Seorang Muslim tidak boleh terjebak pada tujuan memburu kenikmatan sesaat sebagaimana yang diderita oleh kaum yang tidak beragama.
Apapun keadaannya seorang Muslim harus menggunakan karunia-Nya secara maksimal untuk mencapai kenikmatan yang bersifat permanen (akhirat).
Bagaimana mewujudkannya ? Bagaimana meraih cinta-Nya ? Berikut langkah-langkahnya.

1.      Selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ibadah mahdhah secara istiqamah.

Allah Ta’ala berfirman,

Wa idza sa ‘alaka ibadii annii fa innii qariibun ujiibu da’watad dai idza da’ani falyastajiibuu liwal yu’minuu bi la’allahum yar tsuduun

Artinya : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2] : 186)

      Dalam Hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman, “Aku dalam sangkaan hamba-Ku, dan Aku akan selalu bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kemudian apabila ia ingat Aku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia ingat kepada-Ku dalam satu kaum, maka Aku akan mengingatnya dalam kaum yang lebih banyak dari pada kaum itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, Aku akan datang kepadanya dengan lari-lari kecil.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

2.      Kecintaan Allah Ta’ala bisa diperoleh dengan menjalankan ibadah nawafil (tambahan / sunnah).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam (SAW) bersabda, “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal lebih Aku sukai daripada jika ia mengerjakan amal yang Kuwajibkan kepadanya. Hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku denan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, sebagai tangan yang ia memukul dengannya, sebagai kaki yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku pasti Ku-beri dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku pasti Aku lindungi.” (Riwayat Bukhari).

3.      Kecintaan Allah Ta’ala juga bisa diperoleh dengan mencintai para kekasih-Nya. Merekalah orang-orang yang senantiasa ditolong, dilindungi, dan dibela oleh-Nya.

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu (RA), Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapaa memusuhi wali-Ku, maka Ku-izinkan ia diperangi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

4.      Mengikuti ajaran Rasulullah SAW (ittiba’) sebagai bukti kecintaan kepada beliau.

Allah Ta’ala berfirman :

Qul in kuntum tuhibbunallaha fattabi’unii yuhbib kumullahu wayagfir lakum dzunuu bakum wallahu gafuururrahiim

Artinya : “Jika kamu(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran [3] : 31)

5.      Berperang di jalan Allah Ta’ala dengan shaf yang rapi.

Allah Ta’ala berfirman,

Innallaha yuhibbulladziina yuqatiluuna fi sabiilihi shaffan ka’annahum bun yanum marshush

Artinya : “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff [61] : 4)

6.      Sabar ketika diuji dengan penderitaan dan syukur ketika diuji dengan kelapangan.

Allah Ta’ala berfirman,

Wallahu yuhibbush shabiriin

Artinya : “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran [3] : 146)

7.      Selalu berbuat baik dan suka menolong sesama.

Allah Ta’ala berfirman,

Wallahu yuhibbul muhsiniin

Artinya : “Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Maidah [5] : 93)

      Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah RA, juga bersabda, “Barangsiapa melepaskan seorang Mukmin dari penderitaan-penderitaan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya penderitaan-penderitaan hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan yang sulit niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup aib seorang Muslim maka Allah akan menutup aibnya di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim).

8.      Bertakwa dan berbuat adil

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah [9] : 7). Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah [60] : 8).

9.      Ikhlas dalam beramal

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan dunia dalam keadaan ikhlas hanya kepada Allah Ta’ala, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, (lalu) ia wafat, maka Allah ridha kepadanya.” (Riwayat Ibnu Majah).

10.  Bertobat dengan tulus

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah [2] : 222).