Wednesday, May 1, 2013

PEDULI ITU SOLUSI


        Mungkin ada sebagian orang menganggap aneh jika ada yang merasa lebih bahagia membantu orang lain ketimbang mendapat bantuan dari orang lain. Lebih aneh lagi bila ada yang menganggap bahwa masalah diri sendiri bisa diatasi dengan cara membantu mengatasi masalah orang lain.

Begitulah logika manusia yang dangkal. Mental berbagi, untuk beberapa kasus, dianggap aneh. Padahal sejauh apapun logika manusia, resep Allah SWT sebagai Sang Pencipta tak mungkin salah.

Resep itulah yang dibuktikan Rasulullah SAW ketika ditinggal oleh dua “penopang dakwah” yang paling Beliau harapkan kehadirannya. Keduanya adalah isterinya, Khadijah radhiyallahu ‘anhuma, dan pamannya, Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Masa duka yang panjang itu dikenal dengan ‘amul huzni.

Meski berada dalam kondisi sulit, Beliau tetap sangat dermawan kepada masyarakat Makkah yang memusuhi dan menzalimi Beliau. Kesabaran itu berbuah manis dengan datangnya solusi dari Allah SWT. Solusi tersebut tak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, baik sebelum maupun sesudahnya.

Solusi tersebut berupa peristiwa Isra' dan Mi'raj. Di atas langit tertinggi (sidratul muntaha) Allah SWT mengobati kesedihan dan menambah stamina Beliau dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, berbicara langsung dengan-Nya, dan menerima ibadah agung berupa shalat lima waktu.

Makhluk Penuh Masalah
Titah Allah SWT untuk kehidupan dan kematian manusia adalah memberi masalah (ujian). Tujuannya untuk membuktikan siapa di antara mereka yang terbaik amalnya. Allah SWT berfirman :
Alladzii khalaqal mauta wal hayata liyabluwa kum ayyukum ahsanu ‘amalan”
Terjemahnya: “(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Al-Mulk : [67] : 2)”

Atas dasar itulah ada yang memahami bahwa kehidupan manusia normal pasti diawali dengan tangisan. Ini tanda bahwa dia sedang merespon masalah. Sementara sang ibu saat itu malah tersenyum gembira.
Semakin tambah umur, semakin tambah pula masalah manusia. Kebutuhan fisik semakin meningkat, obsesi kian menumpuk, interaksi dengan manusia lain kerap menimbulkan masalah baru.

Bagaimana mengatasi masalah itu ? Bagaimana mendapat solusi terbaik ? Ternyata solusi yang diberikan Allah SWT sederhana saja. Bantulah orang lain dengan motivasi takwa. Mengapa demikian ? Beberapa alasan berikut patut untuk direnungkan.

1.      Allah SWT adalah Sang Penguji
Sudah mafhum bahwa sang penguji pasti lebih tahu jawaban atas ujian dari pada orang yang diuji. Allah SWT adalah penguji manusia. Maka, tentu Dia lebih tahu solusi masalah yang dihadapi manusia, baik diungkap secara langsung melalui Al-Qur'an, maupun diungkap melalui lisan (sunnah) Nabi-Nya.
Sikap normal manusia berakal tentu merujuk pada solusi yang diberikan Sang Pembuat Ujian. Ia tak mau berspekulasi mencari solusi di luar tuntunan Sang Pencipta karena ia tahu hasilnya tidak akan benar (irasional).

2.      Jaminan petunjuk Rasulullah SAW yang shahih
Dalam riwayat yang shahih, melalui lisan Nabi-Nya, Allah SWT menyatakan akan membantu manusia menyelesaikan masalah manakala manusia mau membantu saudaranya.
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa melepaskan seorang mukmin dari kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskan­nya dari kesulitan pada Hari Kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut meno­long saudaranya sesama Muslim.”

Hikmah Solusi
Allah Maha Bijaksana. Karena itu akan ada segudang pelajaran dari upaya kita membantu orang lain, serta akan ada solusi atas masalah yang tengah kita hadapi. Di antara hikmah tersebut adalah :
1.      Menumbuhkan kesadaran akan kelemahan diri.
Manusia jelas tak akan mampu mengatasi masalahnya tanpa bantuan Allah SWT. Membantu orang lain pun ternyata akan mendatangkan bantuan dari Allah SWT.
2.      Membebaskan jiwa dari sifat-sifat buruk
Sifat-sifat buruk tersebut antara lain bakhil, egois, dan takabbur. Jiwa manusia kian luhur dan menuju kesempurnaan sebagai makhluk bila mereka meneladani akhlak Allah SWT.

Menurut Al-Qaradhawi, salah satu sifat Allah SWT adalah mencurahkan kebaikan dan rahmat tanpa disertai sedikit pun manfaat yang kembali untuk diri-Nya. Jika manusia berupaya sekuat tenaga merealisasikan sifat seperti itu maka dia sedang menuju puncak kesempurnaannya sebagai manusia.

Sementara menurut Imam Fakhruddin al-Razi, karakter suka membantu adalah bagian dari kekuatan ‘amaliyyah, yaitu salah satu dari dua kekuatan jiwa yang dimiliki makhluk hidup (al-nafs al-nathiqah). Adapun kekuatan jiwa yang satunya lagi adalah pengetahuan (nazhariyyah).

Dengan adanya kekuatan ‘amaliyyah itulah maka wajar bila Allah SWT mewajibkan kepada manusia untuk berzakat. Sebab, lewat berzakat, inti jiwa akan mencapai kesempurnaan. Zakat akan menumbuhkan sifat berbuat baik kepada sesama makhluk, berusaha memberikan berbagai manfaat, dan mengatasi berbagai kesulitan yang menimpa mereka. (al-­Tafsir al-Kabir : XVI / 101).

3.      Mengembalikan cara pandang yang keliru tapi dijadikan acuan.
Selama ini manusia terhormat dicirikan dengan banyak pembantu, bahkan mampu memaksa orang lain untuk membantunya. Padahal, kehormatan sejati manusia diukur dari ketakwaannya kepada Allah SWT. Indikator utamanya, secara horisontal, suka membantu orang lain.
Nabi SAW menegaskan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lain.” (Riwayat al-Daruquthni).

4.      Menyelamatkan manusia dari azab Allah SWT
Selamatnya manusia dari azab Allah SWT pada dasarnya bukan karena faktor kesalehan dirinya. Sebab, kata Nabi SAW, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Abu Ya'la, “Sungguh telah mencegah azab Allah SWT. Jika tidak ada anak muda yang khusyu’, orang tua yang bungkuk, hewan-hewan yang mengeluarkan suara, dan bayi-bayi yang menyusu, niscaya Allah SWT benar-benar akan menurunkan azab kepada kalian.”

5.      Meraih ridha Allah SWT
Cita-cita tertinggi hamba beriman adalah meraih ridha Allah SWT. Di antara indikator keridhaan tersebut adalah adanya pujian dari-Nya.
Secara gamblang, Allah SWT telah memuji kaum Anshar atas kepedulian mereka kepada saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin, bahkan ketika mereka sendiri sangat membutuhkannya. Allah SWT berfirman :

“…Wala yajiduuna fi suduurihim hajatam mimmaa uutuu wayu’tsiruuna alaya anfusihim walau kana bihim khashashah…”
Terjemahnya: “... Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan...,“ (Al-Hasyr [59] : 9).

Ridha Allah SWT, sebagaimana diberikan-Nya kepada kaum Anshar lewat pujian itu, bisa kita peroleh juga lewat kegemaran membantu sesama.

Wallahu a'lam bish-Shawab***

Sumber : Suara Hidayatullah

Cara Allah Mengingatkan Janji



Ia meminta limpahan rezeki. Begitu permintaannya dipenuhi, janjinya diingkari.

Seorang ustadz dari sebuah pesan­tren datang ke rumah. Ia menceritakan kesulitan pesantrennya. Mendengar hal itu aku langsung me­nyahut, "Seandainya aku punya kele­bihan, aku ingin membantu." Diam­-diam aku pun berdoa, "Ya Allah, seki­ranya Engkau berikan aku rezeki uang lebih dari 2 juta rupiah, maka aku akan membantu pesantren sebesar 2 juta."

Sebagai seorang pegawai negeri yang merantau demi tugas di daerah kepulauan di Kawasan Indonesia Timur seperti aku, doa spontan di atas sungguh tak masuk akal. Mana mungkin mendapatkan tam­bahan penghasilan di luar gaji tanpa usaha sampingan. Satu-satunya jalan adalah menunggu tanggal gajian, tapi itupun biasanya juga pas-pasan untuk kebutuhan keluarga. Namun logika itu tak berlaku jika Allah SWT ingin menunjukkan kuasa-Nya. Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan uang lebih dari Rp 2 juta. Tiba-tiba ada orang yang begitu baik memberiku amplop. Aku sendiri bingung, apa jasaku kepadanya.

Aku masih teringat doa yang baru saja kupanjatkan beberapa hari sebe­lumnya. Namun aku juga ingat kebutu­han keluargaku. Kemarin istriku di kampung halaman baru telepon minta kiriman uang untuk kebutuhan sekolah anak-anak. Aku bingung, mana yang harus aku dulukan ?

Akhirnya, aku sisihkan Rp 1 juta dan aku masukkan ke dalam amplop dengan niat akan aku sedekahkan ke pesantren. Sisanya, Rp 1 juta lebih sedikit akan aku kirim untuk keluarga.

Karena aku tidak mempunyai sepeda motor, maka aku minta tolong agar diantar sopir kantor ke pesantren yang jauhnya sekitar 14 km. Sesampainya di pesantren aku serahkan uang itu dan langsung berpamitan pulang.

Sampai di rumah sopir yang me­ngantarku pun cepat-cepat pulang ka­rena ada keperluan. Sementara mobil ditinggal di rumahku.

Beberapa saat kemudian aku segera keluar mencari makanan dengan membawa mobil. Ketika aku mau belok kanan di pertigaan jalan, tiba-tiba terdengar suara keras "brak!" Astaghfirullah, aku kaget bukan main, ternyata mobil yang aku kemudikan menyerempet becak.

Tiba di rumah aku merenung, me­ngapa kecelakaan itu bisa terjadi ? Ada rahasia apa di balik kejadian tadi ? Aku baru ingat dan segera aku beristighfar. Mungkin itu peringatan Allah karena aku telah melupakan jan­jiku kepada-Nya. Aku teringat dengan ayat al-Qur'an yang isinya menegur aku :

"Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah : 'Sesungguhnya jika Allah membe­rikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.' Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta." (At-Taubah [9] : 75 - 77)

Segera keesokan harinya aku penuhi janjiku. Aku berikan lagi kekurangannya, lalu meminta maaf kepada ustadz dan menceritakan kejadian itu. Aku bahagia dan bersyukur kepada Allah yang telah mengingatkanku dengan cara-Nya se­hingga aku terhindar dari kemunafikan. Subhanallah

RESAH BILA ORANG LAIN SUSAH



Suatu ketika Ibnu Mubarak hendak menjalankan ibadah haji. Semua perbekalan telah lama ia kumpulkan sampai benar-benar siap berangkat. Belum lama beranjak dari kampungnya, ia menyaksikan sesuatu yang menarik perhatian. Seorang wanita renta sedang mengais-ngais di tempat sampah, mengambil sesuatu, lalu memasaknya.

Ketika ditanya apa yang ia masak, wanita tersebut menjawab, “Ini haram bagimu, tapi halal bagiku.” Setelah diselidiki, makanan tersebut ternyata bangkai seekor ayam. Ia terpaksa memasaknya karena keadaan darurat. Ia sudah tiga hari tidak makan.

Melihat keadaan tersebut, Ibnu Mubarak langsung meng­gagalkan niat berangkat ke Makkah. Ia serahkan seluruh perbekalannya kepada sang nenek. Beberapa waktu setelah kejadian itu, suatu malam, Ibnu Mubarak dikejutkan oleh datangnya mimpi, seseorang datang dan berkata, “Hajjan mabruran, wa sa'yan masykuran, wa dzanban maghfuran (hajimu mabrur, sa'imu diterima, dan dosamu diampuni).”

Muslim Hakiki
Muslim yang hakiki, hatinya akan gelisah saat menyaksi­kan orang lain susah. Ia tidak akan tenang jika mendiamkan­nya. Tangannya “gatal” untuk segera memberi pertolongan. Muslim yang baik tak mungkin bersikap egois, hanya mementingkan dirinya sendiri. Jika dia mendapatkan keba­hagiaan, ia ingin membaginya. Ia tidak ingin senang sendiri. Ia bahagia ketika orang lain bahagia. Ia senang ketika orang lain senang. Demikian juga sebaliknya.

Ibnu Abbas adalah sosok Sahabat yang mewakili hal tersebut. Suatu ketika ia berkata, “Ada tiga karakteristik dari diriku. Pertama, setiap kali hujan mengguyur bumi, aku pasti memuji Allah SWT dan aku merasa senang karenanya, meskipun aku tidak punya hewan ternak yang kehausan. Kedua, setiap kali aku mendengar ada seorang hakim yang adil, aku pasti mendoakan kebaikan untuknya sekalipun aku tidak punya perkara yang akan diputuskannya. Ketiga, setiap kali aku memahami maksud satu ayat dalam Al-Qur'an, aku selalu ingin orang lain juga memahaminya sebagaimana aku mema­haminya.”

Itulah sebabnya Rasulullah SAW memotivasi kita dengan ucapan, “Pertolonganmu terhadap orang lemah adalah sedekah yang paling afdhal,” (Riwayat Ibnu Abid-Dunya). Tentu saja Rasulullah SAW bukan sekedar bersabda. Dalam kesehariannya Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat peka dan peduli.

Suatu hari Rasulullah SAW melihat seorang pemuda yang murung dan tak bergairah. Beliau segera menyapanya dengan lembut, “Apa gerangan yang menjadikanmu murung, langkahmu lunglai, dan semangat hidupmu sirna, wahai pemuda?”

Setelah mendapat jawaban dari pemuda tersebut, Beliau pun mengajarkan sebuah doa yang jika diamalkan akan menyelesaikan banyak masalah.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, terlilit hutang dan kesewenang‑wenangan orang.” (Riwayat Bukhari 7 / 158).

Banyak orang yang datang kepada Rasulullah SAW dalam keadaan putus asa. Setelah bertemu dengan Beliau, tak lama kemudian wajah mereka berubah menjadi optimis. Tadinya duka menjadi suka, murung menjadi ceria.

Semua orang yang datang kepada Beliau selalu dilayani, dihormati, dan diberi perhatian yang baik. Tak segan-segan beliau mena­warkan solusi, motivasi, harapan, dan pemecahan masalah yang kongkrit, sederhana, dan bisa dikerjakan.

Pada kesempatan lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah akan menyelamat­kannya dari kesusahan pada Hari Kiamat.” (Riwayat Ahmad).

Ketika seorang wanita datang dan minta diceraikan dari suaminya, Rasulullah SAW memanggil sang suami. Setelah melihat sang suami, beliau menasehatinya agar mandi, menggosok gigi, memakai pakaian yang rapi, menyisir rambut, dan tak lupa memakai parfum.

Beliau melihat pokok masalahnya ada pada sang suami yang berpenampilan kusam, jorok, dan tak menggairahkan. Setelah suaminya berganti penampilan, sang istri pun mengurungkan niatnya untuk minta cerai.

Pengusir Duka dan Masalah
Berbuat baik dan menebar kebajikan kepada orang lain merupakan hal penting dalam mengusir kedukaan dan melenyapkan kesedihan. Pengaruh positif dari perbuatan baik dan usaha menebarkan kebaikan itu tidak saja berdampak kepada orang lain, tetapi akan kembali kepada pelakunya.

Pengaruh yang paling nyata adalah lenyapnya kesedihan dan kedukaan. Rasulullah SAW dalam sebuah Hadits bersabda, “Berbuat baik akan menghindarkan seseorang dari keburukan dan kehancuran yang membinasakan. Orang yang selalu berbuat baik di dunia adalah orang yang baik di akhirat.” (Riwayat Hakim)

Kalau berbuat baik kepada manusia merupakan keutamaan, lalu bagaimana jika berbuat baik kepada sesama Muslim ?

Persaudaraan sesama Muslim dalam satu aqidah merupa­kan ikatan persaudaraan yang lebih kuat dibanding ikatan darah, apalagi ikatan kepentingan. Persaudaraan ini akan menumbuhkan cinta, kasih sayang, saling menolong, saling memberi, dan saling menolak kejahatan.

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW berkata “Allah selalu menolong orang sesama orang itu selalu menolong saudaranya (sesama Muslim),” (Riwayat Ahmad).

Ketika kita mendapati saudara sesama Muslim dizalimi, tugas kita menghilangkan kezaliman tersebut dengan berbagai cara. Setidak-tidaknya kita ikut menghiburnya, memberi harapan, memotivasi, dan menasehatkan kesabaran kepadanya. Membiarkan saudara sesama Muslim dizalimi merupakan pengingkaran terhadap nilai persaudaraan dan keimanan.

Intinya, setiap kita mendapati saudara sesama Muslim tertimpa musibah, adalah kewajiban kita untuk menghi­langkan musibah itu, minimal meringankan penderitaannya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kedukaan seorang Muslim, maka. Allah akan menghilangkan kedukaan dari kedukaan-kedukaan di Hari Kiamat darinya.” (Riwayat Bukhari).

Berbagilah, Berbahagialah !

Lahan beramal shaleh kini terhampar di depan kita. Alangkah banyaknya saudara kita yang bermasalah, mulai dari masalah pribadi, keluarga, hingga masalah sosial kemasya­rakatan. Dari masalah ekonomi hingga masalah negara. Semua menjadi lahan kita untuk ikut serta memecahkannya.

Akhirnya, kita akan menjadi kuat bukan karena kita tidak pernah menghadapi masalah. Justru sebaliknya, kita akan menjadi kuat jika kita sering menolong orang lain mengatasi masalahnya. Dengan cara itu, kita akan banyak mendapatkan teman dan saudara, dan mereka akan menjadi aset yang sangat berharga. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang menjadi kuat karena banyak kawannya,” (Riwayat Ibnu Abid-Dunya).

Kesimpulanaya, segala kebaikan akan berdampak positif kepada diri kita sendiri. Berbuat baik kepada orang lain, sama halnya dengan berbuat baik kepada diri sendiri. Menolong orang lain sama dengan menolong diri sendiri. Membantu orang lain menyelesaikan masalah sama halnya dengan menyelesaikan masalah kita sendiri.

Karena itu, jika mau ditolong maka tolonglah orang lain. Jika ingin berada dalam kebaikan maka berbuat baiklah kepada orang lain. Jika ingin bebas dari masalah maka bantulah orang lain membebaskan diri dari masalah.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mempermudah urusan orang lain, maka Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat. (Riwayat Muslim).
Wallahu a’lam bish-Shawab ***

Sumber : Suara Hidayatullah

Cinta Rasul



Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
     
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Maha Suci Allah yang di tangannya segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menjadikan hidup menjadi mati sebagai bahan ujian bagi kalian untuk mengetahui siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, dan kita semua bersyukur atas karunia seiman satu dalam keyakinan kepada Allah SWT dan kita sama berbahagia karena satu dalam akidah yakni satu syariat Islam dan kita sama senang karena satu dalam ikatan silaturahim semuanya kita hanya menghadapkan hanya Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada Rasulullah SAW, keluarga dan sahabat-sahabat beliau, juga pengikut setia beliau hingga akhir jaman. Satu riwayat di katakan kelak pada saat kondisi sangat genting seluruh manusia datang menghadap kepada Rasulullah Adam AS untuk mengharap pertolongan atas syafaat agar manusia di doakan oleh Nabi Adam AS sebagai Bapak seluruh manusia semoga mendapatkan pertolongan dan bisa masuk ke dalam surga namun pada waktu itu Nabi Adam AS menolak, mengingat dosa besar yang pernah dilakukannya hingga ia malu kepada Allah SWT dan menyuruh manusia seluruhnya untuk datang kepada Nabi Nuh AS, tapi apa yang terjadi, Nabi Nuh AS juga merasa malu memohonkan ampunan kepada Allah SWT karena mengingat seringnya meminta kepada Allah SWT untuk mendatangkan pertolongannya seperti misalnya permohonan besarnya kepada Allah SWT pada saat menyebarkan ketauhidan agar manusia menyembah kepada Allah saja, tapi apa yang terjadi, ia menyeru selama 15 tahun tapi yang ikut kepadanya bersama menyembah Allah hanya sekitar 30 orang saja hingga juga meminta kepada Allah SWT agar menenggelamkan dunia beserta isinya, inilah yang menyebabkan Nabi Nuh AS merasa malu kepada Allah SWT sampai akhirnya ia menyuruh manusia menghadap kepada Nabi Ibrahim AS hingga manusia berbondong-bondong pergi meninggalkan Nabi Nuh AS. Kepada Nabi Ibrahim AS, mengingat Nabi Ibrahim AS adalah bapak ketauhidan, hingga segala hajat manusia dapat terpenuhi bila menghadapnya hingga manusia juga kecewa karena Nabi Ibrahim AS juga menolak memberi doa kepada Allah SWT agar didatangkan syafaatnya kepada umat manusia. Beliau Nabi Ibrahim AS banyak mengingat memohon ampun kepada Allah SWT agar didatangkan syafaatnya kepadanya seperti ketika menyebarkan ketauhidan agar manusia menyembah kepada Allah SWT semata. Tapi manusia menolak hingga Nabi Ibrahim agak putus asa dan berdoa kepada Allah agar seketika mendatangkan azab dan seketika itu pula manusia seluruhnya mati di azab sampai akhirnya Nabi Ibrahim AS menyuruh manusia mendatangi Rasulullah Nabi Besar Muhammad SAW. Yang akhirnya Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khatamul Anbiya penutup para nabi pemilik Nubuwah yang sempurna menyampaikan hajat umat manusia untuk di doakan dan diselamatkan hingga masuk kedalam surga Jannatun Naim (surga tertinggi ke tujuh sempurna) yang Allah SWT ciptakan untuk manusia sebagai balasan perjuangan manusia dalam memperoleh kebaikan-kebaikan atau amal sholeh (perbuatan benar) selama hidup kita di dunia dan sebaliknya mereka yang banyak amal-amal Tholehnya (salah) sungguh sangat merugi karena akan mendapatkan pula balasan-balasan yang tidak menyenangkan karena berada pada tempat yang sangat mengerikan yakni Neraka yang penuh dengan penyiksaan.

Wahai dikau yang masih sehat selagi masih hayat dikandung badan perbanyaklah mencintai Allah dan Rasulnya dan salah satu manivestasi iman kita kepada Allah SWT adalah mencintai Rasulullah SAW. Mengapa kita harus cinta Rasul SAW ? Karena :

Pertama, sebab itu perintah Baginda Rasul SAW.
Kedua, karena tidak sempurna iman seseorang sebelum mencintai Rasulullah SAW melebihi segalanya. Diriwayatkan dari Anas RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan segenap umat manusia." (HR. Bukhari - Muslim).

Hadits shahih tersebut adalah dalil tentang wajibnya mencintai Rasulullah SAW dengan kualitas cinta tertinggi, yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati, yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan terhadap orang­-orang terdekat sekalipun, seperti : anak, istri, ibu dan bapak. Bahkan cinta Rasul itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri sendiri.

Dalam shahih Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khatthab RA. berkata kepada Nabi SAW.
"Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri. Nabi SAW bersabda : "Tidak, demi Zat yang jiwaku ada di Tangan­Nya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri." Maka Umar berkata kepada beliau, "Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri." Maka Nabi bersabda, "Sekarang (telah sempurna kecintaanmu / imanmu padaku) wahai Umar." (HR. Bukhari)

Jadi, cinta Rasul adalah perintah agama. Tidak boleh kita mengekspresikan cinta kepada Rasul SAW itu menurut selera dan hawa nafsu sendiri, tanpa memperhatikan tuntunan dari Baginda Rasul SAW. Sebab jika cinta rasul itu kita ekspresikan serampangan tanpa mengindahkan syariat agama, maka bukan pahala yang kita raih, tetapi dosa yang kita dapatkan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Cinta Rasul tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus dengan acara-acara tertentu, misalnya. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin, dan senantiasa terpatri di dalam hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih, dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.

Orang yang mengaku cinta Rasul itu ada tanda-tandanya. Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul itu antara lain :
1.      Mentaati Rasulullah SAW dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Allah berfirman yang artinya :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al-Hasyr : 7)

Bahkan, hakekat cinta Rasul itu ya taat kepada Rasul itu dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan siapa yang taat kepada Rasul, berarti ia taat kepada Allah. Allah berfirman yang artinya :
“Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." (QS. An-Nisa' : 80)

Maksudnya, Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. Seorang pencinta sejati Rasulullah SAW, manakala ia mendengar Nabi SAW bersabda memerintahkan sesuatu, ia akan segera menunaikannya. la tidak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Adapun orang yang dengan mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Rasul, serta menerjang berbagai kemungkaran, maka pada dasarnya ia hanya mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, meninggalkan pakaian muslimah yang menutup auratnya dsb. Padahal Nabi SAW sangat mengagungkan syariat tersebut. Dan orang jenis ini akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na'udzubillahi min dzalik.

2.      Menolong dan mengagungkan Rasul SAW, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat sebelum dan sesudah beliau wafat, yakni dengan menyebarkan dan mengagungkan sunnah-­sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan risiko yang dihadapinya. Nah, untuk ini, tidak bisa tidak, kita harus sering dan banyak membaca serta mempelajari hadits Nabi, dan Sirah Nabi SAW.

3.      Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui Rasul SAW. Dan rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatupun dari sunnah-­sunnahnya. Adapun selain beliau, termasuk para ulama dan shalihin, maka mereka adalah para pengikut Nabi SAW. Tidak seorangpun dari mereka boleh diterima perintah dan larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi SAW.

4.      Mengikuti dan menghidupkan Sunnah Rasul SAW serta mengikuti beliau dalam segala hal; dalam hal shalat, wudhu, dan berbagai macam ibadah lainnya, juga dalam hal akhlak dan adab, seperti : kasih sayang, rendah hati, dermawan, kesabaran, zuhud, adab berpakaian, bergaul, dll.

5.      Memperbanyak shalawat atas Nabi SAW kapan saja dan di mana saja berada. Allah berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab : 56)

Bershalawat artinya : kalau dari Allah berarti memuji dan memberi rahmat; dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan : Allahuma shalli ala Muhammad.

Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali. “ (HR. Muslim).

Adapun contoh bentuk shalawat Nabi adalah sebagai mana yang diajarkan Nabi SAW ketika ditanya sahabat, yaitu : “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad” yang artinya, “Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”  (HR. Bukhari).

6.      Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi SAW, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Aisyah RA. dan lain-lain yang disebutkan Nabi dalam haditsnya. Kita harus mencintai orang yang dicintai Nabi, dan (sekaligus) membenci orang yang dibenci Nabi. Lebih dari itu, hendaknya kita juga mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi termasuk ucapan, perbuatan, dan sesuatu yang lain.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Itulah tanda-tanda orang yang cinta kepada Rasul SAW. Kalau tidak memenuhi itu, berarti pengakuan kita hanya sekedar pengakuan tanpa bukti, alias omong kosong belaka, meskipun dengan melakukan berbagai aktivitas yang mengatasnamakan “Cinta Rasul.”

Semoga uraian tadi dapat membuka hati kita untuk benar-­benar mencintai Rasululllah SAW dengan bentuk yang benar, sesuai dengan Sunnah Rasul SAW. Amiin Ya Rabbal ‘alamiin.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

BERBAGILAH! MAKA ANDA AKAN BERBAHAGIA



Tak ada pilihan lain bagi Mulyono, sebutlah begitu namanya, kecuali harus mengkonsumsi nasi aking menjelang Ramadhan lalu.

Penarik becak di kawasan Jember, Jawa Timur, ini ketika itu didera sakit, sementara pendapatannya selama ini pas­-pasan. Tak ada uang untuk membeli nasi putih untuk keluarganya. Jadi, tak ada pilihan lain kecuali menggantinya dengan nasi aking, atau sisa-sisa nasi yang tak termakan dan sudah dijemur di terik matahari.

Mulyono tidak sendiri mengalami kegetiran hidup seperti itu. Di Makassar, Sulawesi Selatan, menjelang Idul Fitri lalu, sebuah Klenteng Budha menyelenggarakan pembagian beras dan sembako untuk umat Islam. Ternyata yang datang ribuan orang. Bahkan, beberapa di antaranya pingsan karena terdesak saat antrian.

Betapa banyak warga miskin seperti halnya Mulyono di negeri ini. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada 2010, jumlah orang miskin mencapai 30,2 juta jiwa atau sekitar 12,5 persen dari total penduduk di Indonesia.

Itu berarti jika Anda tinggal bersama 40 tetangga, maka 5 di antaranya mengalami nasib tak jauh berbeda dengan Mulyono. Padahal, kata Rasulullah SAW, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tetangganya.”(Mutafaq Alaih).

Bukan tanpa sebab Allah SWT menciptakan begitu banyak kemiskinan di negeri ini. Mungkin, Dia hendak memberi kemudahan kepada kita untuk peduli kepada sesama. Kita cukup melangkahkan kaki ke sekitar rumah, pasti ada yang membutuhkan pertolongan. Jika bukan karena kekurangan harta, mungkin mereka kekurangan perhatian. Terlebih jika kita melangkahkan kaki lebih jauh lagi.

Allah SWT agaknya ingin mengetuk hati kita dengan menyajikan fakta-fakta tersebut di depan mata. Sungguh terlalu bila hati kita tak jua terpanggil untuk meringankan beban sesama. Padahal, lewat berbagi, Allah SWT menjanjikan solusi atas masalah yang kita hadapi. Solusi untuk kita, solusi untuk keluarga, dan solusi untuk negara.

Berbagilah, maka Anda akan berbahagia !

Sumber : Suara Hidayatullah

Sunday, April 28, 2013

KEADILAN DISTRIBUSI DALAM EKONOMI ISLAM


Oleh: Dr. Abdul Mannan, SE
Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah


“Kelompok miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial”
  
Berbeda dengan ilmu ekonomi kapitalis dan sosialis, sistem ekonomi Islam memiliki paradigma syariah, yang berarti tidak lagi berorientasi kepada pasar, melainkan berorientasi syariah (hukum) yang bersumber dari al-Qur'an dan Hadits. Jika dilihat dari dasar dan filosofinya, berorientasi kepentingan dunia dan akhirat, karena filosofi tauhid akan menaungi seluruh aktivitas hidup, bukan hanya sebatas aktivitas ekonomi melainkan terintegrasi kepada semua aspek kehidupan : sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum, ilmu pengetahuan, teknologi, bahkan tataran spiritual sekalipun.

Jika sistem kapitalisme menonjolkan individualisme dari manusia, dan sosialisme pada kolektivisme, maka Islam menekan­kan empat sifat sekaligus yaitu : kesatuan (Unity atau Tauhid), keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium atau Al-'Adl wal Ihsan), kebebasan (Free will atau Ikhtiyar), dan tanggung jawab (Responsibility atau Fardh).

Sistem ekonomi Islam berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun Negara Kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari kapitalisme karena, pertama, Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Seperti tertulis dalam firman-Nya : "Kecelakaanlah bagi setiap yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung." (Al-Humazah [104] : 2). Kedua, kelompok miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial, seperti yang tercantum dalam al-Qur'an, "Jangan sampai kekayaan hanya beredar dikalangan orang­-orang kaya saja di antara kamu." (Al-Hasyr [59] : 7). Islam berbeda dalam hal kekuasaan negara, yang dalam sosialisme sangat kuat dan menentukan. Kebebasan perorangan yang dinilai tinggi dalam Islam jelas bertentangan dengan ajaran sosialisme.

Ajaran Negara Kesejahteraan (Welfare State), yang berada di tengah-tengah antara kapitalisme dan sosialisme, memang lebih dekat ke ajaran Islam. Bedanya hanyalah, dalam Islam etika benar­-benar dijadikan pedoman perilaku ekonomi sedangkan dalam Welfare State tidak demikian, karena etika Welfare State adalah sekuler yang tidak mengarahkan pada "integrasi vertikal" antara aspirasi materi dan spiritual. Jelas, bahwa dalam Islam pemenuhan kebutuhan materil dan spiritual benar-benar dijaga keseimbangannya, dan pengaturan oleh negara, meskipun ada, tidak akan bersifat otoriter.

Manusia sebagai wakil Allah (khalifah) di dunia tidak mungkin bersifat individualistik karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi. Dari sini, selanjutnya Naqvi merumuskan lima sasaran kebijakan yang ia tarik dari postulat­-postulat etika dasar Islam yakni menyangkut kebebasan individu, keadilan distributif, pertumbuhan ekonomi, pendidikan universal, dan peluang kerja maksimum.

Kita membuktikan bahwa sistem ekonomi Islam dapat mengantarkan pada pencapaian pertumbuhan dan keadilan distributif secara simultan sekaligus menjamin kebebasan individu tanpa mengorbankan kebijakan sosial. Dan, di sinilah letak tugas serta kewajiban Pemerintah dalam mengalokasikan sumberdaya secara adil dan bijak sebagai upaya menekan terjadinya kegagalan pasar. *

Sumber : SUARA HIDAYATULLAH

DUA MODEL MAUT


Oleh : Dr. Ir. Fuad Rumi, MS*

Kali ini mari kita bicara sesuatu yang oleh banyak orang biasanya enggan dibicarakan, yaitu tentang maut. Belum pernah ada seminar membahasnya, dan belum pernah dibicarakan dalam sidang DPR.
Al-Qur'an menggambarkan ada dua cara malakul maut mencabut ruh dari tubuh orang yang sudah tiba ajalnya. Sebutlah itu sebagai dua model maut yang berbeda.
Model pertama, digambarkan oleh al-Qur'an dalam surah al-An'am [6] : 93, "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang zalim dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) `keluarkanlah nyawamu’ ...
Kedua, digambarkan dalam surah an-Nahl [16] : 32 yaitu, "Orang-­orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan ‘Salaamun `alaikum’, keselamatan atasmu..."
Ketika membaca ini pasti semua tidak ingin maut model pertama dan sebaliknya sangat mengharap maut model yang kedua. Kalau begitu mari kita bicarakan model yang kita tidak ingini saja, yaitu model pertama.
Orang yang mautnya model pertama adalah orang zalim. Siapakah orang zalim ? Sudah ada satu jawaban yang jelas dari al-Qur'an dalam surah Luqman [31] ayat 13, inna sysyirka ladhulmun aziim (sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar).
Zalim adalah perbuatan aniaya. Jika seseorang berkuasa sewenang-­wenang dan menindas orang yang dikuasainya, maka itu namanya zalim. Jika orang memiliki kekuatan lalu memperlakukan orang-orang lemah sesuka hatinya, maka itu adalah zalim. Jika rakyat kecil menderita lalu semakin ditambah penderitaannya oleh penguasa, maka penguasanya adalah penguasa zalim. Penguasa zalim yang dicontohkan al-Qur'an adalah Firaun. Banyak contoh kezaliman bisa kita sebutkan sendiri menambah deretan daftar orang-orang zalim.
Ada satu model kezaliman yang sekarang lagi melanda negeri kita, yaitu korupsi kelas kakap: korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang rekeningnya sudah gendut semakin ingin gendut dengan cara mengkorup uang negara. Akibatnya, uang yang sedianya akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil menjadi hilang. Logikanya, orang yang sudah kenyang merampas makanan orang yang kelaparan. Apa itu bukan kezaliman ?
Korupsi di negeri kita seperti itulah adanya. Para koruptor sebenarnya adalah orang-orang yang hatinya tega merampas hak-­hak rakyat kecil.
Akibat dari korupsi di negeri ini, tidak bisa disangkal telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa kita. Akibatnya pembangunan sosial dan kesejahteraan rakyat belum pernah bisa tertangani dengan baik. Betapa lukanya hati rakyat setiap kali mengetahui ada sekian triliun rupiah dana negara dikorupsi oleh satu-dua orang saja atau satu golongan saja. Padahal jika dihitung-hitung, dana triliunan itu bisa dipakai untuk membangun ribuan rumah bagi rakyat yang hidup di kolong jembatan, di bantaran sungai dan pinggir rel kereta api. Dana triliunan itu bisa untuk mengobati rakyat miskin yang sakit di mana-mana karena mereka kelaparan.
Para koruptor besar adalah orang-orang yang otaknya encer, yang dengan mudah mengkalkulasi hitungan-hitungan seperti ini. Apalagi jika koruptor itu pejabat negara atau wakil rakyat, dia pasti tahu bahwa itu menggerogoti opportunity rakyat memperoleh kesejahteraan. Nah, jika mereka sudah mengetahuinya namun masih diambilnya juga apakah itu bukan "merampas makanan dari piring orang miskin dan kelaparan ?" Apakah itu bukan perbuatan tega, yang sampai bati menyusahkan orang yang sudah susah ? Sungguh tidak ragu lagi bahwa itu adalah sebuah kezaliman yang nyata.
Lalu, mari kita kembali pada gambaran model maut orang zalim yang diceritakan al-Qur'an tadi, betapa mengerikan. Ketika orang zalim dalam tekanan sakaratul maut, maka malaikat maut memukul dengan tangannya sembari berkata, "Keluarkan nyawamu !" Mari berdoa na'udzu billahi min dzalik. Artinya, mari berjuang tidak menjadi orang zalim. Mari berjuang tidak menjadi koruptor.

*Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar

Sumber : SUARA HIDAYATULLAH