Tuesday, May 7, 2013

LANGKAH NYATA MENEGAKKAN PERADABAN ISLAM


Peradaban modern, yang tak lain merupakan metamorfosis dari idiologi materialisme dengan lokomotif globalisasinya, terasa begitu cepat berkembang dan dinamis. Ia bahkan telah meninggalkan pesaingnya yang mengusung tema lebih menjanjikan, yaitu peradaban Islam.

            Padahal, Islam adalah inspirator peradaban yang telah melahirkan generasi terbaik sepanjang sejarah manusia, yaitu Rasulullah SAW dan para sahabat. Dahulu mereka berhasil mewujudkan iman dalam kehidupan nyata. Maka kini, orang-orang beriman yang telah mengikuti Beliau, seharusnya pun mampu melakukan hal yang sama. Lalu, seluas apa ruang lingkup implementasi iman dalam kehidupan nyata yang harus diwujudkan oleh orang-orang beriman ?

Pertama, Lingkup Pribadi
            Salah satu keutamaan seorang mukmin adalah sifat berkorban yang tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan, yaitu pengorbanan sebagaimana yang digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat [49] : 15)

Dengan keimanan itulah orang-orang mukmin dapat melepaskan diri dari belenggu dan ikatan duniawi yang sangat materialistis sehingga mereka rela berkorban dengan harta dan jiwanya di jalan Allah SWT. Karena imanlah mereka lebih memilih perniagaan yang lebih baik dan menyelamatkan, sekaligus mengundang ampunan dan surga-Nya, serta pertolongan dan kemenangan dari-Nya.

Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.” (Ash-Shaaf [61] : 10 - 11).

Kedua, Lingkup Masyarakat 
            
       Rasulullah SAW saat membangun masyarakat Islam di Madinah berawal dari mendirikan masjid. Bahkan secara konsisten Rasulullah SAW dan para sahabat telah menjadikan masjid bukan sekedar tempat tempat shalat, namun juga tempat membangun masyarakat dan peradaban. Semangat inilah yang digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya :

“Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’aam [6] : 162).

            Pembangunan peradaban Islam yang dimulai dari masjid memberikan pesan bahwa peradaban yang hendak dibangun itu harus berlandaskan iman dan ilmu. Keduanya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Melalui masjid-masjid, peradaban Islam tumbuh dan berkembang memberi kontribusi yang luar biasa terhadap peradaban dunia karena bersumber langsung dari Al-Qur’an. Di sisi lain, masjid telah menjadi tempat lahirnya banyak ulama dan ilmuwan besar Islam. Sayangnya, umat Islam dewasa ini justru tertinggal peradabannya.

Ketiga, Lingkup Dunia
            Dengan iman, seseorang akan menjadikan kehidupan dunia ini sebagai sarana untuk mendapatkan tujuan yang lebih mulia, yaitu kehidupan akhirat. Jika seseorang rela dengan harta yang sedikit dan tempat tinggal yang sederhana, maka ringan pula baginya untuk mengeluarkan hartanya, meninggalkan rumah dan keluarganya, bahkan kehidupannya, demi menggapai ridha Allah SWT. Ketika maut menjemputnya, baik di rumah maupun di medan jihad, ia menyambutnya dengan gembira. Sebab, ia yakin bahwa ada surga menantinya.

Orang beriman hampir tidak pernah memberi sesuatu kecuali untuk mendapatkan ganjaran dari Allah SWT, baik tunai atau ditangguhkan. Jiwanya selalu menantikan balasan yang adil atas apa yang pernah diberikannya. Karena hanya perjuangan dan pengorbanan demi agamalah yang dapat memecahkan persoalan manusia.

Bagi orang beriman, apa saja yang ia berikan akan kembali padanya berlipat ganda. Harta yang ia berikan dan apa yang menimpa jiwa dan raganya akan diganti pula oleh Allah SWT. Jika ia mempersembahkan nyawanya di jalan Allah SWT, lalu ia terbunuh atau mati, pada hakikatnya ia tidak mati melainkan hidup di sisi Tuhannya dan diberi rezeki.

Allah SWT berfirman :

“…dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Al-Baqarah [2] : 272).

Menerima dan menjawab ujian dengan baik dan benar.
            Tujuan pokok dari ujian yang diberikan Allah SWT adalah untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Sebab, hakekat iman yang benar adalah rela berkorban dengan tenaga, pikiran, dan harta benda, bahkan mempertaruhkan nyawa sekalipun.
            
Allah SWT menggambarkan orang-orang yang benar imannya dalam Al-Qur’an Surah Fushshilat [41] ayat 30 - 31. Mereka, kata Allah SWT, adalah orang-orang yang mengatakan bahwa, “Allah itu Tuhan kami (Rabbunallah),” kemudian mereka berpendirian teguh.

Menjadikan iman sebagai semangat gerakan
            Bila kita ingin mencapai apa yang telah dicapai oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, maka hendaklah kita memperbaharui iman dan melaksanakan apa yang menjadi konsekuensinya. Iman itu bukan sekedar retorika, tapi benar-benar menuntut pelaksanaannya.

            Itulah sebabnya, segala upaya dalam penerapan iman pasti akan menghadapi berbagai tantangan, yakni :
1.      Godaan Hawa Nafsu
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah [45] ayat 23
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan akan dibiarkan oleh Allah SWT dalam keadaan sesat. Kemudian, Allah SWT mengunci mati pendengaran dan hatinya, serta menutup penglihatannya. Jika sudah seperti ini, siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah SWT ?

2.     Kesombongan
Sesungguhnya milik Allah-lah segala yang meliputi langit dan bumi dan apa-apa yang dimiliki manusia adalah amanah dari-Nya, lantas mengapakah kita sebagai manusia tidak mengambil pelajaran?

Allah SWT berfirman :
“Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al-Alaq [96] : 6 – 7).

3.     Cinta Dunia
Allah SWT berfirman :
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka neraka Jahim lah tempat kembalinya.” (An-Naazi’aat [79] : 37 – 38).

4.     Dorongan Syahwat
Allah SWT dalam Surah Ali-Imran [3] ayat 14, menyebut contoh-contoh kesenangan hidup di dunia yang bisa mendorong syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta emas dan perak yang banyak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, serta sawah dan ladang.

Wallahu a’lam bish-shawab. ***
Sumber: LZI_News Ed.11

MAAFKANLAH SEBELUM DIMINTA



Salah satu sisi negatif kehidupan modern adalah munculnya masyarakat yang egois. Hampir semua orang disibukkan oleh urusannya sendiri, dan tak peduli dengan urusan orang lain. Bila ada urusan pribadinya yang terganggu sedikit saja, muncul alasan untuk marah, membalas, atau mendendam. Padahal, dengan cara seperti itu, ia malah akan menang­gung dua beban sekaligus. Pertama, beban atas gangguan orang lain dan yang kedua, beban marah yang tersimpan di dalam dadanya.

Islam mengajarkan kepada kita untuk membebaskan diri dari segala bentuk beban yang tidak perlu. Kita harus memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani. Kita buang beban itu dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memaafkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Khudzil ‘afwa wah mur bil ‘urfi wa a’ridh anil jahiliin”
Terjemahnya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-­orang yang bodoh.” (Al-A'raf [7] : 199)

Meski Dizalimi
Seperti diriwayatkan oleh Ath-Thabari, ketika ayat di atas diturunkan, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam (SAW) meminta penjelasan kepada Jibril tentang maksud dan kandungannya. Jibril kemudian menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan agar engkau memaafkan, sekalipun kepada orang yang menganiayamu (agar engkau) memberi kepada orang yang menahan pemberiannya, dan (agar engkau) menyambung silaturahim, meskipun kepada orang yang sengaja memutuskannya.”

Dalam kisah yang diriwayatkan Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah memuji seorang bernama Abu Dhamdham di depan para Sahabat. “Apakah kalian mampu berbuat seperti yang dilakukan Abu Dhamdham?” kata Rasulullah SAW.

Para Sahabat kemudian bertanya, “Apakah yang dilakukan Abu Dhamdham wahai Rasulullah ?”
Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang ketika bangun pagi selalu mengucapkan doa, ‘Ya Allah, saya berikan jiwa dan nama baik saya. Jangan dicela orang yang mencela saya dan janganlah dizalimi orang yang menzalimi saya, serta jangan dipukul orang yang memukul saya.”

Alangkah mulianya ajaran Islam ini bila diterapkan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Selain mulia, memaafkan juga bisa mendatangkan kebahagiaan. Sebaliknya, keengganan untuk memaafkan hanya akan melahirkan kesengsaraan, karena membiarkan diri disakiti terus-menerus oleh diri kita sendiri.

Untuk itu, maafkanlah orang yang meminta maaf. Maafkan juga orang yang mengajukan pengakuan atas kesalahannya, dan terimalah permintaan maafnya tanpa banyak pertimbangan. Bahkan carikan alasan agar kita bisa memaafkannya.

Sebelum Diminta
Al-Qur'an secara spesifik pernah menegur Abu Bakar Ash-­Shiddiq karena ia telah bersumpah akan memutuskan hubungan kekerabatan dan menghentikan bantuan keuangan yang biasa diberikannya kepada sepupunya, Misthah bin Utsatsah.

Peristiwa ini bukan tanpa alasan. Misthah telah melukai hati Abu Bakar karena ikut serta menyebarluaskan berita bohong (haditsul ifki) tentang `Aisyah, putri kesayangannya. Dalam berita palsu itu disebutkan bahwa 'Aisyah telah berbuat serong dengan lelaki lain. Siapa yang hatinya tidak marah jika putrinya difitnah seperti itu ?

 Akan tetapi Allah Ta’ala justru menurunkan ayat secara khusus ditujukan kepada Abu Bakar. Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana disebutkan dalam Surat An-Nuur [24] ayat 22,
Terjemahnya: “dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nuur: 22)

Setelah ayat itu disampaikan oleh Rasulullah SAW, secara spontan Abu Bakar menjawab pertanyaan Allah Ta’ala dengan berdoa, “Ya Allah, aku lebih suka agar Engkau mengampuniku, dan aku sudah memafkannya.”

Abu Bakar memberi maaf kepada sepupunya yang menye­barkan fitnah keji itu sebelum Misthah datang meminta maaf. Baginya, ampunan Allah Ta’ala jauh lebih penting dari pada sekedar permintaan maaf orang lain. Ia tidak menunggu sepupunya merengek-rengek atau menunduk-­nunduk meminta maaf. Meminta maaf atau tidak, ia telah memaaf­kannya.

Pangkal Pengampunan
Bagi orang yang bertakwa, ampunan Allah Ta’ala berada di atas segala-galanya. Karena itu, kita hendaklah meminta ampunan-Nya siang dan malam. Beristighfar dan bertobatlah kepada-Nya. Salah satu cara mudah meraih ampunan Allah Ta’ala adalah dengan memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah SAW, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, berkata, “Barangsiapa memaafkan kesalahan seorang Mus­lim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya.” Sepanjang bukan menyangkut masalah hudud (hukuman yang diatur oleh Allah Ta’ala), seberapa pun besarnya kesalahan orang lain, kita harus bisa terbuka untuk memaafkannya.

Ada dua cara yang efektif untuk memaafkan kesalahan orang lain. Pertama, kita menyadari bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa. Kita sendiri sebagai pribadi, juga sering berbuat salah, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada sesama manusia.

Jika kita ingin dimaafkan orang lain, tentu orang lain yang berbuat salah kepada kita juga ingin dimaafkan oleh kita. Jika ada orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan.

Dalam hal ini kita harus berhusnuzhan (baik sangka) kepadanya bahwa dia tidak memahami kesalahannya, atau karena ilmunya yang terbatas, atau mungkin saja persepsinya yang berbeda.

Cara kedua, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala itu Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Jika Allah Ta’ala mudah memberi maaf, mengapa kita pelit memaafkan orang lain ?

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang lebih suka memaafkan selain Allah. Oleh karena itu, Dia mengutus para Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.” (Riwayat Bukhari).

Begitu besarnya pengampunan Allah Ta’ala sehingga Dia memaafkan orang yang meminta ampunan maupun yang tidak minta ampun. Dalam Hadits yang diriwayatkan Bukhari disebutkan bahwa ada seorang laki-laki di masa lalu yang memerintahkan anak-anaknya untuk membakar jasadnya jika ia telah mati, lalu menaburkan abunya di hembusan angin. Tujuannya tak lain agar Allah Ta’ala kelak, menurut anggapannya, tidak dapat mengumpulkan kembali abu tersebut dan tidak dapat menyiksanya.

Lalu Allah Ta’ala mengumpulkan abunya, dan menghidupkannya kembali, dan kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan kamu berbuat demikian ?” Ia menjawab, “Karena aku takut kepada-Mu, wahai Tuhanku.” Allah Ta’ala kemudian mengampuninya.

Para Ulama mengomentari Hadits di atas bahwa Allah Ta’ala mengampuni dosa seseorang karena ketidaktahuannya dalam masalah aqidah. Lantas bagaimana dengan kita ? Apakah kita tidak ingin memaafkan kesalahan saudara kita hanya karena ketidaktahuannya atas masalah yang lebih sepele dibanding kejadian di atas ?

Al-Qur'an bahkan menyebut dengan tiga tindakan berkaitan dengan pemaafan dalam keluarga, yaitu ta’fu (memaafkan), tasfahu (tidak mengeluarkan kata-kata yang identik dengan mencela), dan taghfiru (memohonkan ampunan kepada Allah Ta’ala untuk mereka).

Sesungguhnya ada seribu satu alasan untuk memaafkan, sebagaimana ada seribu satu alasan untuk tidak memaafkan. Hanya saja, sebagai orang yang telah mengetahui keutamaan memaafkan, kita tentu lebih memilih untuk memaafkan.

Sebab itulah ciri-ciri orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Ali Imran [3] ayat 133 - 134 bahwa, “ ... (orang yang bertakwa) yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”

Alangkah angkuhnya kita jika tidak mau memaafkan saudara kita. Padahal, dengan memaafkan, berarti kita menyenangkan hati orang lain, memusnahkan benih kejahatan, menghilangkan kedengkian, dan membantu orang lain untuk bertobat.

Wallahu a’lam bish-Shawab. ***
Sumber : Suara Hidayatullah (dengan penyesuaian)


Wednesday, May 1, 2013

PEDULI ITU SOLUSI


        Mungkin ada sebagian orang menganggap aneh jika ada yang merasa lebih bahagia membantu orang lain ketimbang mendapat bantuan dari orang lain. Lebih aneh lagi bila ada yang menganggap bahwa masalah diri sendiri bisa diatasi dengan cara membantu mengatasi masalah orang lain.

Begitulah logika manusia yang dangkal. Mental berbagi, untuk beberapa kasus, dianggap aneh. Padahal sejauh apapun logika manusia, resep Allah SWT sebagai Sang Pencipta tak mungkin salah.

Resep itulah yang dibuktikan Rasulullah SAW ketika ditinggal oleh dua “penopang dakwah” yang paling Beliau harapkan kehadirannya. Keduanya adalah isterinya, Khadijah radhiyallahu ‘anhuma, dan pamannya, Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Masa duka yang panjang itu dikenal dengan ‘amul huzni.

Meski berada dalam kondisi sulit, Beliau tetap sangat dermawan kepada masyarakat Makkah yang memusuhi dan menzalimi Beliau. Kesabaran itu berbuah manis dengan datangnya solusi dari Allah SWT. Solusi tersebut tak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, baik sebelum maupun sesudahnya.

Solusi tersebut berupa peristiwa Isra' dan Mi'raj. Di atas langit tertinggi (sidratul muntaha) Allah SWT mengobati kesedihan dan menambah stamina Beliau dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, berbicara langsung dengan-Nya, dan menerima ibadah agung berupa shalat lima waktu.

Makhluk Penuh Masalah
Titah Allah SWT untuk kehidupan dan kematian manusia adalah memberi masalah (ujian). Tujuannya untuk membuktikan siapa di antara mereka yang terbaik amalnya. Allah SWT berfirman :
Alladzii khalaqal mauta wal hayata liyabluwa kum ayyukum ahsanu ‘amalan”
Terjemahnya: “(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Al-Mulk : [67] : 2)”

Atas dasar itulah ada yang memahami bahwa kehidupan manusia normal pasti diawali dengan tangisan. Ini tanda bahwa dia sedang merespon masalah. Sementara sang ibu saat itu malah tersenyum gembira.
Semakin tambah umur, semakin tambah pula masalah manusia. Kebutuhan fisik semakin meningkat, obsesi kian menumpuk, interaksi dengan manusia lain kerap menimbulkan masalah baru.

Bagaimana mengatasi masalah itu ? Bagaimana mendapat solusi terbaik ? Ternyata solusi yang diberikan Allah SWT sederhana saja. Bantulah orang lain dengan motivasi takwa. Mengapa demikian ? Beberapa alasan berikut patut untuk direnungkan.

1.      Allah SWT adalah Sang Penguji
Sudah mafhum bahwa sang penguji pasti lebih tahu jawaban atas ujian dari pada orang yang diuji. Allah SWT adalah penguji manusia. Maka, tentu Dia lebih tahu solusi masalah yang dihadapi manusia, baik diungkap secara langsung melalui Al-Qur'an, maupun diungkap melalui lisan (sunnah) Nabi-Nya.
Sikap normal manusia berakal tentu merujuk pada solusi yang diberikan Sang Pembuat Ujian. Ia tak mau berspekulasi mencari solusi di luar tuntunan Sang Pencipta karena ia tahu hasilnya tidak akan benar (irasional).

2.      Jaminan petunjuk Rasulullah SAW yang shahih
Dalam riwayat yang shahih, melalui lisan Nabi-Nya, Allah SWT menyatakan akan membantu manusia menyelesaikan masalah manakala manusia mau membantu saudaranya.
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa melepaskan seorang mukmin dari kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskan­nya dari kesulitan pada Hari Kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut meno­long saudaranya sesama Muslim.”

Hikmah Solusi
Allah Maha Bijaksana. Karena itu akan ada segudang pelajaran dari upaya kita membantu orang lain, serta akan ada solusi atas masalah yang tengah kita hadapi. Di antara hikmah tersebut adalah :
1.      Menumbuhkan kesadaran akan kelemahan diri.
Manusia jelas tak akan mampu mengatasi masalahnya tanpa bantuan Allah SWT. Membantu orang lain pun ternyata akan mendatangkan bantuan dari Allah SWT.
2.      Membebaskan jiwa dari sifat-sifat buruk
Sifat-sifat buruk tersebut antara lain bakhil, egois, dan takabbur. Jiwa manusia kian luhur dan menuju kesempurnaan sebagai makhluk bila mereka meneladani akhlak Allah SWT.

Menurut Al-Qaradhawi, salah satu sifat Allah SWT adalah mencurahkan kebaikan dan rahmat tanpa disertai sedikit pun manfaat yang kembali untuk diri-Nya. Jika manusia berupaya sekuat tenaga merealisasikan sifat seperti itu maka dia sedang menuju puncak kesempurnaannya sebagai manusia.

Sementara menurut Imam Fakhruddin al-Razi, karakter suka membantu adalah bagian dari kekuatan ‘amaliyyah, yaitu salah satu dari dua kekuatan jiwa yang dimiliki makhluk hidup (al-nafs al-nathiqah). Adapun kekuatan jiwa yang satunya lagi adalah pengetahuan (nazhariyyah).

Dengan adanya kekuatan ‘amaliyyah itulah maka wajar bila Allah SWT mewajibkan kepada manusia untuk berzakat. Sebab, lewat berzakat, inti jiwa akan mencapai kesempurnaan. Zakat akan menumbuhkan sifat berbuat baik kepada sesama makhluk, berusaha memberikan berbagai manfaat, dan mengatasi berbagai kesulitan yang menimpa mereka. (al-­Tafsir al-Kabir : XVI / 101).

3.      Mengembalikan cara pandang yang keliru tapi dijadikan acuan.
Selama ini manusia terhormat dicirikan dengan banyak pembantu, bahkan mampu memaksa orang lain untuk membantunya. Padahal, kehormatan sejati manusia diukur dari ketakwaannya kepada Allah SWT. Indikator utamanya, secara horisontal, suka membantu orang lain.
Nabi SAW menegaskan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lain.” (Riwayat al-Daruquthni).

4.      Menyelamatkan manusia dari azab Allah SWT
Selamatnya manusia dari azab Allah SWT pada dasarnya bukan karena faktor kesalehan dirinya. Sebab, kata Nabi SAW, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Abu Ya'la, “Sungguh telah mencegah azab Allah SWT. Jika tidak ada anak muda yang khusyu’, orang tua yang bungkuk, hewan-hewan yang mengeluarkan suara, dan bayi-bayi yang menyusu, niscaya Allah SWT benar-benar akan menurunkan azab kepada kalian.”

5.      Meraih ridha Allah SWT
Cita-cita tertinggi hamba beriman adalah meraih ridha Allah SWT. Di antara indikator keridhaan tersebut adalah adanya pujian dari-Nya.
Secara gamblang, Allah SWT telah memuji kaum Anshar atas kepedulian mereka kepada saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin, bahkan ketika mereka sendiri sangat membutuhkannya. Allah SWT berfirman :

“…Wala yajiduuna fi suduurihim hajatam mimmaa uutuu wayu’tsiruuna alaya anfusihim walau kana bihim khashashah…”
Terjemahnya: “... Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan...,“ (Al-Hasyr [59] : 9).

Ridha Allah SWT, sebagaimana diberikan-Nya kepada kaum Anshar lewat pujian itu, bisa kita peroleh juga lewat kegemaran membantu sesama.

Wallahu a'lam bish-Shawab***

Sumber : Suara Hidayatullah

Cara Allah Mengingatkan Janji



Ia meminta limpahan rezeki. Begitu permintaannya dipenuhi, janjinya diingkari.

Seorang ustadz dari sebuah pesan­tren datang ke rumah. Ia menceritakan kesulitan pesantrennya. Mendengar hal itu aku langsung me­nyahut, "Seandainya aku punya kele­bihan, aku ingin membantu." Diam­-diam aku pun berdoa, "Ya Allah, seki­ranya Engkau berikan aku rezeki uang lebih dari 2 juta rupiah, maka aku akan membantu pesantren sebesar 2 juta."

Sebagai seorang pegawai negeri yang merantau demi tugas di daerah kepulauan di Kawasan Indonesia Timur seperti aku, doa spontan di atas sungguh tak masuk akal. Mana mungkin mendapatkan tam­bahan penghasilan di luar gaji tanpa usaha sampingan. Satu-satunya jalan adalah menunggu tanggal gajian, tapi itupun biasanya juga pas-pasan untuk kebutuhan keluarga. Namun logika itu tak berlaku jika Allah SWT ingin menunjukkan kuasa-Nya. Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan uang lebih dari Rp 2 juta. Tiba-tiba ada orang yang begitu baik memberiku amplop. Aku sendiri bingung, apa jasaku kepadanya.

Aku masih teringat doa yang baru saja kupanjatkan beberapa hari sebe­lumnya. Namun aku juga ingat kebutu­han keluargaku. Kemarin istriku di kampung halaman baru telepon minta kiriman uang untuk kebutuhan sekolah anak-anak. Aku bingung, mana yang harus aku dulukan ?

Akhirnya, aku sisihkan Rp 1 juta dan aku masukkan ke dalam amplop dengan niat akan aku sedekahkan ke pesantren. Sisanya, Rp 1 juta lebih sedikit akan aku kirim untuk keluarga.

Karena aku tidak mempunyai sepeda motor, maka aku minta tolong agar diantar sopir kantor ke pesantren yang jauhnya sekitar 14 km. Sesampainya di pesantren aku serahkan uang itu dan langsung berpamitan pulang.

Sampai di rumah sopir yang me­ngantarku pun cepat-cepat pulang ka­rena ada keperluan. Sementara mobil ditinggal di rumahku.

Beberapa saat kemudian aku segera keluar mencari makanan dengan membawa mobil. Ketika aku mau belok kanan di pertigaan jalan, tiba-tiba terdengar suara keras "brak!" Astaghfirullah, aku kaget bukan main, ternyata mobil yang aku kemudikan menyerempet becak.

Tiba di rumah aku merenung, me­ngapa kecelakaan itu bisa terjadi ? Ada rahasia apa di balik kejadian tadi ? Aku baru ingat dan segera aku beristighfar. Mungkin itu peringatan Allah karena aku telah melupakan jan­jiku kepada-Nya. Aku teringat dengan ayat al-Qur'an yang isinya menegur aku :

"Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah : 'Sesungguhnya jika Allah membe­rikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.' Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta." (At-Taubah [9] : 75 - 77)

Segera keesokan harinya aku penuhi janjiku. Aku berikan lagi kekurangannya, lalu meminta maaf kepada ustadz dan menceritakan kejadian itu. Aku bahagia dan bersyukur kepada Allah yang telah mengingatkanku dengan cara-Nya se­hingga aku terhindar dari kemunafikan. Subhanallah

RESAH BILA ORANG LAIN SUSAH



Suatu ketika Ibnu Mubarak hendak menjalankan ibadah haji. Semua perbekalan telah lama ia kumpulkan sampai benar-benar siap berangkat. Belum lama beranjak dari kampungnya, ia menyaksikan sesuatu yang menarik perhatian. Seorang wanita renta sedang mengais-ngais di tempat sampah, mengambil sesuatu, lalu memasaknya.

Ketika ditanya apa yang ia masak, wanita tersebut menjawab, “Ini haram bagimu, tapi halal bagiku.” Setelah diselidiki, makanan tersebut ternyata bangkai seekor ayam. Ia terpaksa memasaknya karena keadaan darurat. Ia sudah tiga hari tidak makan.

Melihat keadaan tersebut, Ibnu Mubarak langsung meng­gagalkan niat berangkat ke Makkah. Ia serahkan seluruh perbekalannya kepada sang nenek. Beberapa waktu setelah kejadian itu, suatu malam, Ibnu Mubarak dikejutkan oleh datangnya mimpi, seseorang datang dan berkata, “Hajjan mabruran, wa sa'yan masykuran, wa dzanban maghfuran (hajimu mabrur, sa'imu diterima, dan dosamu diampuni).”

Muslim Hakiki
Muslim yang hakiki, hatinya akan gelisah saat menyaksi­kan orang lain susah. Ia tidak akan tenang jika mendiamkan­nya. Tangannya “gatal” untuk segera memberi pertolongan. Muslim yang baik tak mungkin bersikap egois, hanya mementingkan dirinya sendiri. Jika dia mendapatkan keba­hagiaan, ia ingin membaginya. Ia tidak ingin senang sendiri. Ia bahagia ketika orang lain bahagia. Ia senang ketika orang lain senang. Demikian juga sebaliknya.

Ibnu Abbas adalah sosok Sahabat yang mewakili hal tersebut. Suatu ketika ia berkata, “Ada tiga karakteristik dari diriku. Pertama, setiap kali hujan mengguyur bumi, aku pasti memuji Allah SWT dan aku merasa senang karenanya, meskipun aku tidak punya hewan ternak yang kehausan. Kedua, setiap kali aku mendengar ada seorang hakim yang adil, aku pasti mendoakan kebaikan untuknya sekalipun aku tidak punya perkara yang akan diputuskannya. Ketiga, setiap kali aku memahami maksud satu ayat dalam Al-Qur'an, aku selalu ingin orang lain juga memahaminya sebagaimana aku mema­haminya.”

Itulah sebabnya Rasulullah SAW memotivasi kita dengan ucapan, “Pertolonganmu terhadap orang lemah adalah sedekah yang paling afdhal,” (Riwayat Ibnu Abid-Dunya). Tentu saja Rasulullah SAW bukan sekedar bersabda. Dalam kesehariannya Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat peka dan peduli.

Suatu hari Rasulullah SAW melihat seorang pemuda yang murung dan tak bergairah. Beliau segera menyapanya dengan lembut, “Apa gerangan yang menjadikanmu murung, langkahmu lunglai, dan semangat hidupmu sirna, wahai pemuda?”

Setelah mendapat jawaban dari pemuda tersebut, Beliau pun mengajarkan sebuah doa yang jika diamalkan akan menyelesaikan banyak masalah.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, terlilit hutang dan kesewenang‑wenangan orang.” (Riwayat Bukhari 7 / 158).

Banyak orang yang datang kepada Rasulullah SAW dalam keadaan putus asa. Setelah bertemu dengan Beliau, tak lama kemudian wajah mereka berubah menjadi optimis. Tadinya duka menjadi suka, murung menjadi ceria.

Semua orang yang datang kepada Beliau selalu dilayani, dihormati, dan diberi perhatian yang baik. Tak segan-segan beliau mena­warkan solusi, motivasi, harapan, dan pemecahan masalah yang kongkrit, sederhana, dan bisa dikerjakan.

Pada kesempatan lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah akan menyelamat­kannya dari kesusahan pada Hari Kiamat.” (Riwayat Ahmad).

Ketika seorang wanita datang dan minta diceraikan dari suaminya, Rasulullah SAW memanggil sang suami. Setelah melihat sang suami, beliau menasehatinya agar mandi, menggosok gigi, memakai pakaian yang rapi, menyisir rambut, dan tak lupa memakai parfum.

Beliau melihat pokok masalahnya ada pada sang suami yang berpenampilan kusam, jorok, dan tak menggairahkan. Setelah suaminya berganti penampilan, sang istri pun mengurungkan niatnya untuk minta cerai.

Pengusir Duka dan Masalah
Berbuat baik dan menebar kebajikan kepada orang lain merupakan hal penting dalam mengusir kedukaan dan melenyapkan kesedihan. Pengaruh positif dari perbuatan baik dan usaha menebarkan kebaikan itu tidak saja berdampak kepada orang lain, tetapi akan kembali kepada pelakunya.

Pengaruh yang paling nyata adalah lenyapnya kesedihan dan kedukaan. Rasulullah SAW dalam sebuah Hadits bersabda, “Berbuat baik akan menghindarkan seseorang dari keburukan dan kehancuran yang membinasakan. Orang yang selalu berbuat baik di dunia adalah orang yang baik di akhirat.” (Riwayat Hakim)

Kalau berbuat baik kepada manusia merupakan keutamaan, lalu bagaimana jika berbuat baik kepada sesama Muslim ?

Persaudaraan sesama Muslim dalam satu aqidah merupa­kan ikatan persaudaraan yang lebih kuat dibanding ikatan darah, apalagi ikatan kepentingan. Persaudaraan ini akan menumbuhkan cinta, kasih sayang, saling menolong, saling memberi, dan saling menolak kejahatan.

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW berkata “Allah selalu menolong orang sesama orang itu selalu menolong saudaranya (sesama Muslim),” (Riwayat Ahmad).

Ketika kita mendapati saudara sesama Muslim dizalimi, tugas kita menghilangkan kezaliman tersebut dengan berbagai cara. Setidak-tidaknya kita ikut menghiburnya, memberi harapan, memotivasi, dan menasehatkan kesabaran kepadanya. Membiarkan saudara sesama Muslim dizalimi merupakan pengingkaran terhadap nilai persaudaraan dan keimanan.

Intinya, setiap kita mendapati saudara sesama Muslim tertimpa musibah, adalah kewajiban kita untuk menghi­langkan musibah itu, minimal meringankan penderitaannya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kedukaan seorang Muslim, maka. Allah akan menghilangkan kedukaan dari kedukaan-kedukaan di Hari Kiamat darinya.” (Riwayat Bukhari).

Berbagilah, Berbahagialah !

Lahan beramal shaleh kini terhampar di depan kita. Alangkah banyaknya saudara kita yang bermasalah, mulai dari masalah pribadi, keluarga, hingga masalah sosial kemasya­rakatan. Dari masalah ekonomi hingga masalah negara. Semua menjadi lahan kita untuk ikut serta memecahkannya.

Akhirnya, kita akan menjadi kuat bukan karena kita tidak pernah menghadapi masalah. Justru sebaliknya, kita akan menjadi kuat jika kita sering menolong orang lain mengatasi masalahnya. Dengan cara itu, kita akan banyak mendapatkan teman dan saudara, dan mereka akan menjadi aset yang sangat berharga. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang menjadi kuat karena banyak kawannya,” (Riwayat Ibnu Abid-Dunya).

Kesimpulanaya, segala kebaikan akan berdampak positif kepada diri kita sendiri. Berbuat baik kepada orang lain, sama halnya dengan berbuat baik kepada diri sendiri. Menolong orang lain sama dengan menolong diri sendiri. Membantu orang lain menyelesaikan masalah sama halnya dengan menyelesaikan masalah kita sendiri.

Karena itu, jika mau ditolong maka tolonglah orang lain. Jika ingin berada dalam kebaikan maka berbuat baiklah kepada orang lain. Jika ingin bebas dari masalah maka bantulah orang lain membebaskan diri dari masalah.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mempermudah urusan orang lain, maka Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat. (Riwayat Muslim).
Wallahu a’lam bish-Shawab ***

Sumber : Suara Hidayatullah

Cinta Rasul



Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
     
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Maha Suci Allah yang di tangannya segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menjadikan hidup menjadi mati sebagai bahan ujian bagi kalian untuk mengetahui siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, dan kita semua bersyukur atas karunia seiman satu dalam keyakinan kepada Allah SWT dan kita sama berbahagia karena satu dalam akidah yakni satu syariat Islam dan kita sama senang karena satu dalam ikatan silaturahim semuanya kita hanya menghadapkan hanya Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada Rasulullah SAW, keluarga dan sahabat-sahabat beliau, juga pengikut setia beliau hingga akhir jaman. Satu riwayat di katakan kelak pada saat kondisi sangat genting seluruh manusia datang menghadap kepada Rasulullah Adam AS untuk mengharap pertolongan atas syafaat agar manusia di doakan oleh Nabi Adam AS sebagai Bapak seluruh manusia semoga mendapatkan pertolongan dan bisa masuk ke dalam surga namun pada waktu itu Nabi Adam AS menolak, mengingat dosa besar yang pernah dilakukannya hingga ia malu kepada Allah SWT dan menyuruh manusia seluruhnya untuk datang kepada Nabi Nuh AS, tapi apa yang terjadi, Nabi Nuh AS juga merasa malu memohonkan ampunan kepada Allah SWT karena mengingat seringnya meminta kepada Allah SWT untuk mendatangkan pertolongannya seperti misalnya permohonan besarnya kepada Allah SWT pada saat menyebarkan ketauhidan agar manusia menyembah kepada Allah saja, tapi apa yang terjadi, ia menyeru selama 15 tahun tapi yang ikut kepadanya bersama menyembah Allah hanya sekitar 30 orang saja hingga juga meminta kepada Allah SWT agar menenggelamkan dunia beserta isinya, inilah yang menyebabkan Nabi Nuh AS merasa malu kepada Allah SWT sampai akhirnya ia menyuruh manusia menghadap kepada Nabi Ibrahim AS hingga manusia berbondong-bondong pergi meninggalkan Nabi Nuh AS. Kepada Nabi Ibrahim AS, mengingat Nabi Ibrahim AS adalah bapak ketauhidan, hingga segala hajat manusia dapat terpenuhi bila menghadapnya hingga manusia juga kecewa karena Nabi Ibrahim AS juga menolak memberi doa kepada Allah SWT agar didatangkan syafaatnya kepada umat manusia. Beliau Nabi Ibrahim AS banyak mengingat memohon ampun kepada Allah SWT agar didatangkan syafaatnya kepadanya seperti ketika menyebarkan ketauhidan agar manusia menyembah kepada Allah SWT semata. Tapi manusia menolak hingga Nabi Ibrahim agak putus asa dan berdoa kepada Allah agar seketika mendatangkan azab dan seketika itu pula manusia seluruhnya mati di azab sampai akhirnya Nabi Ibrahim AS menyuruh manusia mendatangi Rasulullah Nabi Besar Muhammad SAW. Yang akhirnya Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khatamul Anbiya penutup para nabi pemilik Nubuwah yang sempurna menyampaikan hajat umat manusia untuk di doakan dan diselamatkan hingga masuk kedalam surga Jannatun Naim (surga tertinggi ke tujuh sempurna) yang Allah SWT ciptakan untuk manusia sebagai balasan perjuangan manusia dalam memperoleh kebaikan-kebaikan atau amal sholeh (perbuatan benar) selama hidup kita di dunia dan sebaliknya mereka yang banyak amal-amal Tholehnya (salah) sungguh sangat merugi karena akan mendapatkan pula balasan-balasan yang tidak menyenangkan karena berada pada tempat yang sangat mengerikan yakni Neraka yang penuh dengan penyiksaan.

Wahai dikau yang masih sehat selagi masih hayat dikandung badan perbanyaklah mencintai Allah dan Rasulnya dan salah satu manivestasi iman kita kepada Allah SWT adalah mencintai Rasulullah SAW. Mengapa kita harus cinta Rasul SAW ? Karena :

Pertama, sebab itu perintah Baginda Rasul SAW.
Kedua, karena tidak sempurna iman seseorang sebelum mencintai Rasulullah SAW melebihi segalanya. Diriwayatkan dari Anas RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan segenap umat manusia." (HR. Bukhari - Muslim).

Hadits shahih tersebut adalah dalil tentang wajibnya mencintai Rasulullah SAW dengan kualitas cinta tertinggi, yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati, yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan terhadap orang­-orang terdekat sekalipun, seperti : anak, istri, ibu dan bapak. Bahkan cinta Rasul itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri sendiri.

Dalam shahih Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khatthab RA. berkata kepada Nabi SAW.
"Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri. Nabi SAW bersabda : "Tidak, demi Zat yang jiwaku ada di Tangan­Nya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri." Maka Umar berkata kepada beliau, "Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri." Maka Nabi bersabda, "Sekarang (telah sempurna kecintaanmu / imanmu padaku) wahai Umar." (HR. Bukhari)

Jadi, cinta Rasul adalah perintah agama. Tidak boleh kita mengekspresikan cinta kepada Rasul SAW itu menurut selera dan hawa nafsu sendiri, tanpa memperhatikan tuntunan dari Baginda Rasul SAW. Sebab jika cinta rasul itu kita ekspresikan serampangan tanpa mengindahkan syariat agama, maka bukan pahala yang kita raih, tetapi dosa yang kita dapatkan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Cinta Rasul tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus dengan acara-acara tertentu, misalnya. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin, dan senantiasa terpatri di dalam hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih, dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.

Orang yang mengaku cinta Rasul itu ada tanda-tandanya. Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul itu antara lain :
1.      Mentaati Rasulullah SAW dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Allah berfirman yang artinya :
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya." (QS. Al-Hasyr : 7)

Bahkan, hakekat cinta Rasul itu ya taat kepada Rasul itu dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan siapa yang taat kepada Rasul, berarti ia taat kepada Allah. Allah berfirman yang artinya :
“Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." (QS. An-Nisa' : 80)

Maksudnya, Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. Seorang pencinta sejati Rasulullah SAW, manakala ia mendengar Nabi SAW bersabda memerintahkan sesuatu, ia akan segera menunaikannya. la tidak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Adapun orang yang dengan mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Rasul, serta menerjang berbagai kemungkaran, maka pada dasarnya ia hanya mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, meninggalkan pakaian muslimah yang menutup auratnya dsb. Padahal Nabi SAW sangat mengagungkan syariat tersebut. Dan orang jenis ini akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na'udzubillahi min dzalik.

2.      Menolong dan mengagungkan Rasul SAW, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat sebelum dan sesudah beliau wafat, yakni dengan menyebarkan dan mengagungkan sunnah-­sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan risiko yang dihadapinya. Nah, untuk ini, tidak bisa tidak, kita harus sering dan banyak membaca serta mempelajari hadits Nabi, dan Sirah Nabi SAW.

3.      Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui Rasul SAW. Dan rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatupun dari sunnah-­sunnahnya. Adapun selain beliau, termasuk para ulama dan shalihin, maka mereka adalah para pengikut Nabi SAW. Tidak seorangpun dari mereka boleh diterima perintah dan larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi SAW.

4.      Mengikuti dan menghidupkan Sunnah Rasul SAW serta mengikuti beliau dalam segala hal; dalam hal shalat, wudhu, dan berbagai macam ibadah lainnya, juga dalam hal akhlak dan adab, seperti : kasih sayang, rendah hati, dermawan, kesabaran, zuhud, adab berpakaian, bergaul, dll.

5.      Memperbanyak shalawat atas Nabi SAW kapan saja dan di mana saja berada. Allah berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab : 56)

Bershalawat artinya : kalau dari Allah berarti memuji dan memberi rahmat; dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan : Allahuma shalli ala Muhammad.

Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali. “ (HR. Muslim).

Adapun contoh bentuk shalawat Nabi adalah sebagai mana yang diajarkan Nabi SAW ketika ditanya sahabat, yaitu : “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad” yang artinya, “Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”  (HR. Bukhari).

6.      Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi SAW, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Aisyah RA. dan lain-lain yang disebutkan Nabi dalam haditsnya. Kita harus mencintai orang yang dicintai Nabi, dan (sekaligus) membenci orang yang dibenci Nabi. Lebih dari itu, hendaknya kita juga mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi termasuk ucapan, perbuatan, dan sesuatu yang lain.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Itulah tanda-tanda orang yang cinta kepada Rasul SAW. Kalau tidak memenuhi itu, berarti pengakuan kita hanya sekedar pengakuan tanpa bukti, alias omong kosong belaka, meskipun dengan melakukan berbagai aktivitas yang mengatasnamakan “Cinta Rasul.”

Semoga uraian tadi dapat membuka hati kita untuk benar-­benar mencintai Rasululllah SAW dengan bentuk yang benar, sesuai dengan Sunnah Rasul SAW. Amiin Ya Rabbal ‘alamiin.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

BERBAGILAH! MAKA ANDA AKAN BERBAHAGIA



Tak ada pilihan lain bagi Mulyono, sebutlah begitu namanya, kecuali harus mengkonsumsi nasi aking menjelang Ramadhan lalu.

Penarik becak di kawasan Jember, Jawa Timur, ini ketika itu didera sakit, sementara pendapatannya selama ini pas­-pasan. Tak ada uang untuk membeli nasi putih untuk keluarganya. Jadi, tak ada pilihan lain kecuali menggantinya dengan nasi aking, atau sisa-sisa nasi yang tak termakan dan sudah dijemur di terik matahari.

Mulyono tidak sendiri mengalami kegetiran hidup seperti itu. Di Makassar, Sulawesi Selatan, menjelang Idul Fitri lalu, sebuah Klenteng Budha menyelenggarakan pembagian beras dan sembako untuk umat Islam. Ternyata yang datang ribuan orang. Bahkan, beberapa di antaranya pingsan karena terdesak saat antrian.

Betapa banyak warga miskin seperti halnya Mulyono di negeri ini. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada 2010, jumlah orang miskin mencapai 30,2 juta jiwa atau sekitar 12,5 persen dari total penduduk di Indonesia.

Itu berarti jika Anda tinggal bersama 40 tetangga, maka 5 di antaranya mengalami nasib tak jauh berbeda dengan Mulyono. Padahal, kata Rasulullah SAW, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tetangganya.”(Mutafaq Alaih).

Bukan tanpa sebab Allah SWT menciptakan begitu banyak kemiskinan di negeri ini. Mungkin, Dia hendak memberi kemudahan kepada kita untuk peduli kepada sesama. Kita cukup melangkahkan kaki ke sekitar rumah, pasti ada yang membutuhkan pertolongan. Jika bukan karena kekurangan harta, mungkin mereka kekurangan perhatian. Terlebih jika kita melangkahkan kaki lebih jauh lagi.

Allah SWT agaknya ingin mengetuk hati kita dengan menyajikan fakta-fakta tersebut di depan mata. Sungguh terlalu bila hati kita tak jua terpanggil untuk meringankan beban sesama. Padahal, lewat berbagi, Allah SWT menjanjikan solusi atas masalah yang kita hadapi. Solusi untuk kita, solusi untuk keluarga, dan solusi untuk negara.

Berbagilah, maka Anda akan berbahagia !

Sumber : Suara Hidayatullah